Oleh: Johan Sopaheluwakan, S.Pd., C.EJ., C.BJ., CLA-D., CPC., CPI
TAMPERAK NEWS – CIRACAS, JAKARTA TIMUR – Minggu, 30 Agustus 2026 – Perbedaan pandangan dalam memahami dan menafsirkan Alkitab adalah kenyataan yang ada sepanjang sejarah Gereja. Ketiga kelompok besar ini, Liberal, Injili, dan Fundamentalis, lahir dari cara pandang yang berbeda, namun semuanya berakar pada keinginan memahami firman Tuhan.
Tidak ada satu pun kelompok yang sepenuhnya benar atau sepenuhnya salah; masing-masing memiliki kelebihan yang perlu dihargai dan kekurangan yang perlu diwaspadai.
Sebagai Anak Tuhan, kita tidak terjebak memilih salah satu ujung ekstrem, melainkan mencari kehendak Tuhan yang utuh, seimbang, dan hidup.
Analisis Masing-masing Kelompok: Kelebihan dan Kekurangan
Kelompok Liberal
Pandangan Dasar: Mengakui ada kekeliruan dalam naskah Alkitab, kebenaran bersifat relatif, lebih mengutamakan kasih daripada doktrin, terbuka bergaul dengan dunia, serta kesetaraan penuh peran pria dan wanita.
Kelebihan:
– Memiliki kerendahan hati bahwa pemahaman manusia terbatas dan bisa keliru — sikap ini sesuai dengan 1 Korintus 13:9–10: “Karena pengetahuan kita terbatas… sempurna nanti, yang terbatas itu akan lenyap.”
– Menekankan kasih sebagai inti ajaran Kristus — selaras dengan perintah utama Tuhan: “Kasihilah Tuhan… dan Kasihilah sesamamu manusia seperti dirimu sendiri.” (Matius 22:37–40)
– Terbuka menjangkau dunia dengan kasih, tidak menutup diri, menghargai martabat dan kesetaraan setiap manusia tanpa membedakan jenis kelamin.
Kekurangan:
– Terlalu jauh melangkah hingga meragukan keandalan dan kebenaran mutlak Alkitab sebagai firman Tuhan — padahal 2 Timotius 3:16 menyatakan: “Segala tulisan yang diilhamkan Allah memang bermanfaat untuk mengajar… untuk mendidik orang dalam kebenaran.”
– Menjadikan kebenaran “relatif” sehingga batas antara benar dan salah bisa kabur; doktrin iman perlahan melemah.
– Terlalu mudah menyesuaikan diri dengan dunia hingga berisiko melupakan kebenaran yang tidak boleh dikompromikan — sesuai peringatan Roma 12:2: “Janganlah kamu menjadi serupa dengan dunia ini, tetapi berubahlah oleh pembaharuan budimu.”

Kelompok Injili
Pandangan Dasar: Alkitab tidak salah dalam kesaksian keselamatan, namun bisa terbatas dalam hal pengetahuan alam/zaman; sebagian kebenaran mutlak, sebagian relatif; menyeimbangkan kasih dan doktrin; hidup di tengah dunia tapi beda caranya; wanita boleh melayani dengan batas tertentu sesuai penafsiran mereka.
Kelebihan:
– Menjaga keseimbangan yang sehat: memegang teguh inti iman keselamatan sekaligus sadar bahwa pemahaman manusia tumbuh — ini cerminan kerendahan hati sekaligus keteguhan iman.
– Menempatkan kasih dan kebenaran berdampingan: Efesus 4:15 mengajarkan: “Hendaklah kita teguh berpegang pada kebenaran di dalam kasih.”
– Berani hadir di tengah dunia tanpa menjadi bagian dari sifat dunia; melayani dengan tanggung jawab sekaligus kerendahan hati.
Kekurangan:
– Garis batasnya agak kabur dan rentan berubah-ubah, sehingga mudah tergelincir menjadi “tengah-tengah saja” yang akhirnya tidak tegas.
– Pembatasan pelayanan wanita seringkali berlebihan atau tidak konsisten dengan semangat kesetaraan di dalam Kristus: “Sebab kamu semua adalah satu di dalam Kristus Yesus.” (Galatia 3:28)
– Terkadang masih ragu: mana yang mutlak dari Tuhan, mana yang hanya kebiasaan budaya zaman dulu.
Kelompok Fundamental
Pandangan Dasar: Alkitab mutlak tanpa salah sedikit pun; kebenaran mutlak; lebih mengutamakan doktrin daripada kasih; menjaga jarak tegas dari dunia; pembatasan ketat peran wanita dalam memimpin/mengajar laki-laki dewasa.
Kelebihan:
– Memiliki keteguhan iman yang patut diteladani: percaya firman Tuhan itu kekal dan tidak berubah — sesuai Matius 24:35: “Langit dan bumi akan berlalu, tetapi perkataan-Ku tidak akan berlalu.”
– Menjaga kemurnian ajaran agar tidak mudah tercampur arus zaman yang berubah-ubah — selaras peringatan Wahyu 22:18–19 agar tidak menambah atau mengurangi firman Allah.
– Berani berdiri beda dari dunia demi kebenaran, tidak mau kompromi dengan dosa.
Kekurangan:
– Seringkali menukar keteguhan dengan kekerasan: benar secara tulisan tapi hilang roh kasih — padahal 1 Korintus 13:2 mengingatkan:
– “…semua iman, sehingga dapat memindahkan gunung, tetapi jika tidak punya kasih, aku tidak ada apa-apanya.”
– Terlalu memutlakkan pemahaman pribadi seakan sama mutlaknya dengan firman Tuhan sendiri, lupa bahwa manusia tetap terbatas pandangannya.
– Terlalu menutup diri dari dunia sehingga sulit menjadi garam dan terang; serta pembatasan peran wanita seringkali mengabaikan kenyataan bahwa Tuhan pun memakai wanita sebagai nabi, murid, dan rekan sekerja-Nya.

Apa yang Perlu Dilakukan Anak Tuhan?
Dari ketiga kelompok ini, Tuhan mengajarkan kita mengambil yang baik dari semuanya, lalu menolak yang berlebihan atau kurang:
1. Peganglah Alkitab dengan teguh namun rendah hati: Percayalah Alkitab memang firman Tuhan yang benar, tapi sadar bahwa pemahaman kita masih dalam proses tumbuh — tidak perlu merasa paling benar.
2. Kebenaran dan Kasih tidak boleh dipisahkan: Kebenaran tanpa kasih menjadi keras dan menakutkan; kasih tanpa kebenaran menjadi lemah dan tanpa arah. Yesus Kristus datang membawa “Kasih yang setia dan Kebenaran yang sejati” — keduanya menyatu (Yohanes 1:14).
3. Hidup di dunia tapi bukan dari dunia: Hadir, peduli, menjangkau sesama, tapi tidak meniru cara hidup dunia yang melupakan Tuhan.
4. Setiap Anak Tuhan dipanggil melayani sesuai karunia-Nya: Baik pria maupun wanita, semuanya adalah anggota tubuh Kristus yang saling membutuhkan. Jangan membatasi apa yang Tuhan berkatikan.
5. Tujuan akhir bukan memenangkan perdebatan, tapi menggenapi panggilan: Menjadi serupa dengan Kristus, bertumbuh dalam kekudusan, dan memberitakan Injil kepada segala bangsa.

Apa Mau Tuhan Atas Hidup Kita?
Apa pun aliran atau kelompok tempat kita berdiri, mau Tuhan itu satu dan tidak berubah:
Pertama: Percaya sepenuh hati kepada Yesus Kristus sebagai Tuhan dan Juruselamat — bukan sekadar memahami doktrin, melainkan menyerahkan hidup kepada-Nya.
Kedua: Hidup dalam Kebenaran — tetap berpegang pada firman-Nya yang kekal, tidak terombang-ambing angin ajaran.
Ketiga: Hidup dalam Kasih — melaksanakan kebenaran dengan lemah lembut, sabar, dan mau mengasihi bahkan mereka yang berbeda pandangan dengan kita.
Keempat: Menjadi Garam dan Terang — berdiri teguh di tengah dunia, menahan pembusukan, dan memancarkan cahaya Kristus ke mana pun Tuhan kirim.
Kelima: Tumbuh menjadi dewasa dalam Kristus — tidak berhenti pada pendapat kelompok, tapi terus bertumbuh sampai kita semua mencapai kesatuan iman dan pengetahuan akan Anak Allah (Efesus 4:13).
Tuhan tidak menuntut kita menjadi ahli teori yang sempurna, melainkan menjadi hati yang taat: yang mau mendengar firman-Nya, mau diubahkan hidupnya, dan mau melakukannya — di dalam kebenaran yang kokoh, dibungkus kasih yang tulus. Itulah panggilan sejati seorang Anak Tuhan.
Semoga kajian ini menjadi hikmat bagi seluruh jemaat: bukan memilih sisi, melainkan memilih Kristus yang adalah Jalan, Kebenaran, dan Hidup.
Penulis adalah Mahasiswa Magister PAK STTI Philadelphia, Banten.
















