Opinii  

UIN Sultan Amai Gorontalo: Dari Institut Menuju Semesta Keilmuan

banner 120x600
banner 468x60

Oleh:
Dr. Hasyim Mahmud Wantu, S.Ag., M.Pd.I
Wakil Dekan III FITK IAIN Sultan Amai Gorontalo

TAMPERAK NEWS – GORONTALO – Ada kabar yang patut disyukuri oleh seluruh keluarga besar civitas akademika dan masyarakat Gorontalo. Melalui Peraturan Presiden Nomor 48 Tahun 2026 yang ditetapkan Presiden Prabowo Subianto pada 16 Juli 2026, Institut Agama Islam Negeri (IAIN) Sultan Amai Gorontalo resmi beralih status menjadi Universitas Islam Negeri (UIN) Sultan Amai Gorontalo.

Perubahan ini bukan sekadar pergantian nama dari “institut” menjadi “universitas”, melainkan sebuah lompatan kelembagaan yang membawa konsekuensi, tanggung jawab, sekaligus harapan yang jauh lebih besar.

Peraturan Presiden tersebut menegaskan bahwa UIN Sultan Amai Gorontalo lahir melalui perubahan bentuk dari IAIN, dengan mengalihkan seluruh kekayaan, pegawai, hak, kewajiban, serta seluruh mahasiswa dari institut ke universitas yang baru. Artinya, tidak ada pihak yang dirugikan dalam proses transisi ini. Sebaliknya, perubahan tersebut membuka ruang gerak dan cakrawala yang lebih luas.

Sebagaimana diatur dalam Pasal 3 Perpres tersebut, UIN tidak hanya menyelenggarakan pendidikan tinggi ilmu agama Islam, tetapi juga dapat membuka program studi ilmu-ilmu lain untuk mendukung dan memperkaya kajian keislaman.

Di sinilah letak makna terdalam transformasi ini. Perubahan menjadi UIN merupakan wujud nyata cita-cita integrasi ilmu, yakni memadukan ilmu agama dengan ilmu pengetahuan dan teknologi sebagaimana menjadi pertimbangan utama dalam Perpres tersebut.

Selama ini masih sering muncul dikotomi yang keliru antara “ilmu agama” dan “ilmu umum”, seolah keduanya berjalan di jalur yang berbeda. Kehadiran UIN diharapkan mampu merobohkan sekat tersebut. Ilmu ekonomi, sains, teknologi, kesehatan, sosial, dan humaniora tidak lagi dipandang asing dari nilai-nilai keislaman, melainkan menjadi bagian dari ikhtiar memahami ayat-ayat Allah, baik yang tertulis dalam Al-Qur’an maupun yang terbentang di alam semesta.

Sebagai bagian dari keluarga besar UIN Sultan Amai Gorontalo, saya menyambut perubahan status ini dengan rasa syukur dan optimisme. Namun, sebagai pimpinan yang diberi amanah dalam bidang kemahasiswaan, alumni, dan kerja sama, saya memandang bahwa manfaat terbesar dari transformasi ini harus benar-benar dirasakan oleh mahasiswa dan lulusan.

Dengan status universitas, pilihan program studi akan semakin luas, peluang memperoleh beasiswa semakin terbuka, jejaring kerja sama dalam dan luar negeri semakin besar, serta daya saing lulusan di dunia kerja akan semakin kuat. Mahasiswa UIN ke depan diharapkan tidak hanya unggul dalam pemahaman keagamaan, tetapi juga memiliki keterampilan abad ke-21, melek teknologi, berjiwa wirausaha, serta berwawasan global tanpa kehilangan akar keislamannya.

Nuansa syukur akan semakin terasa pada bulan Agustus ketika seluruh fakultas dan program studi mengantarkan para lulusannya melalui prosesi wisuda. Momentum tersebut menjadi semakin bermakna karena berlangsung bertepatan dengan perubahan status kampus menjadi Universitas Islam Negeri Sultan Amai Gorontalo.

Wisuda kali ini menjadi wisuda terakhir yang diselenggarakan atas nama Institut Agama Islam Negeri Sultan Amai Gorontalo. Para wisudawan menjadi saksi sejarah: generasi terakhir yang menyandang gelar dari “institut”, sekaligus generasi pertama yang menyaksikan lahirnya sebuah “universitas”.

Walaupun secara hukum nama UIN telah sah melalui Peraturan Presiden, seluruh perangkat kelembagaan, mulai dari statuta, organisasi, tata kerja, hingga penataan struktur masih terus dipersiapkan secara cermat. Karena itu, wisuda kali ini berada tepat di ambang transisi: satu kaki telah melangkah ke masa depan sebagai UIN, sementara satu kaki lainnya masih berpijak pada warisan mulia IAIN yang telah melahirkan puluhan ribu alumni.

Kelak, para wisudawan dapat dengan bangga menceritakan kepada anak cucunya bahwa mereka lahir dari rahim IAIN pada detik-detik terakhir sekaligus ikut menyalakan obor UIN pada fajar pertamanya.

Momentum ini semakin bermakna karena bertepatan dengan bulan kemerdekaan. Di tengah gegap gempita peringatan Hari Ulang Tahun Kemerdekaan Republik Indonesia, perubahan status ini menjadi hadiah bagi dunia pendidikan tinggi keagamaan di Gorontalo.

Sebagaimana para pendiri bangsa berjuang mengubah status dari bangsa terjajah menjadi bangsa merdeka, keluarga besar kampus juga menapaki perjalanan panjang mengubah institut menjadi universitas. Kemerdekaan sejati, sebagaimana diamanatkan Pembukaan UUD 1945, salah satunya diwujudkan melalui kecerdasan kehidupan bangsa.

Karena itu, lahirnya UIN Sultan Amai Gorontalo merupakan bentuk nyata pengisian kemerdekaan sekaligus sumbangsih Gorontalo dalam melahirkan generasi yang beriman, berilmu, dan berdaya saing.

Namun demikian, status baru bukanlah garis akhir, melainkan garis awal. Menyandang nama universitas berarti menyanggupi standar mutu yang lebih tinggi, mulai dari kualitas dosen dan tenaga kependidikan, akreditasi program studi, produktivitas riset dan publikasi ilmiah, tata kelola yang bersih dan akuntabel, hingga penyediaan sarana dan prasarana yang memadai.

Perpres juga mengatur pembinaan yang jelas, yakni ilmu-ilmu agama tetap berada dalam pembinaan Kementerian Agama, sementara ilmu-ilmu umum dibina oleh kementerian yang membidangi pendidikan tinggi. Sinergi lintas kementerian tersebut menuntut kesiapan seluruh civitas akademika untuk terus berbenah, bekerja lebih keras, dan berpikir lebih strategis.

Oleh karena itu, momentum ini seharusnya menjadi titik konsolidasi seluruh elemen kampus. Pimpinan, dosen, tenaga kependidikan, mahasiswa, dan alumni harus menyatukan langkah, meninggalkan sekat-sekat yang tidak perlu, serta bergerak bersama membangun UIN Sultan Amai Gorontalo yang maju.

Kepada para mahasiswa, saya mengajak agar perubahan ini tidak hanya disambut dengan euforia, tetapi diwujudkan melalui peningkatan kualitas diri, prestasi akademik, dan keterlibatan aktif dalam kegiatan yang mengasah kepemimpinan serta kepedulian sosial.

Kepada para alumni, inilah saatnya memperkuat kontribusi dan jejaring. Sebab, kebesaran sebuah universitas tidak hanya diukur dari gedung dan fasilitasnya, tetapi juga dari kiprah para lulusannya di tengah masyarakat.

Sultan Amai, nama besar yang diabadikan pada kampus ini, dikenal sebagai tokoh yang memadukan kepemimpinan, keislaman, dan kecintaan kepada negeri. Semoga perubahan status ini menjadi tonggak lahirnya generasi yang berilmu, beriman, berakhlak mulia, mengabdikan diri bagi kemajuan Gorontalo dan Indonesia, serta menjadi rahmat bagi seluruh masyarakat.

Dirgahayu Republik Indonesia. Selamat kepada para calon wisudawan penutup era IAIN, dan selamat datang Universitas Islam Negeri Sultan Amai Gorontalo. Semoga menjadi mercusuar ilmu dan peradaban dari Gorontalo untuk Indonesia dan dunia.

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *