Opinii  

Melodi Lintas Samudra: Saat Warisan Lisbon Bertemu Nadi Kampung Tugu

banner 120x600
banner 468x60

Oleh: Johan Sopaheluwakan, S.Pd., C.EJ., C.BJ., CLA-D., CPC

TAMPERAK NEWS – JAKARTA – Sabtu, 18 Juli 2026 –  Lebih dari sekadar pertunjukan seni, perjumpaan antara komunitas pelestari budaya Portugal Viras do Tio Xico dengan warga Kampung Tugu menjadi bukti nyata bahwa sejarah yang terjalin ratusan tahun silam tak akan pernah pudar ditelan zaman. Dalam acara bertajuk “Senandung Budaya dari Lisbon ke Batavia” yang digelar Yayasan Rumah Budaya Michiels di Living Museum Roemah Toegoe, Sabtu (18/7/2026), terjalin kembali ikatan persaudaraan yang erat, hangat, dan penuh makna mendalam.

Kampung Tugu dipilih sebagai destinasi pertama rombongan yang datang dari jauh itu bukan tanpa alasan. Di sinilah budaya Portugis berpadu sempurna dengan kearifan lokal Nusantara, menciptakan identitas unik yang terus dijaga turun-temurun. Acara yang dimulai dengan tarian penyambutan khas Betawi kemudian berlanjut pada irama tari rakyat Malhão-Malhão, lagu-lagu keroncong berbahasa Kreol, hingga alunan Sodade yang meruntuhkan segala jarak dan perbedaan bahasa.

Momen paling menyentuh tercipta saat panggung tak lagi dibatasi batas penonton dan penghibur. Tarian rakyat Portugal berubah menjadi tarian bersama, alat musik cavaquinho yang berevolusi menjadi macina dan prounga di tangan musisi Tugu bersahutan dengan alat musik yang dibawa langsung dari Eropa. Kolaborasi spontan ini membuktikan bahwa seni adalah bahasa universal yang langsung menyentuh hati tanpa perlu kata-kata panjang lebar.


Francisco Lacerda e Megre, pimpinan rombongan, mengaku sangat terharu menemukan kemiripan irama dan semangat yang sama persis dengan tanah leluhurnya. “Kami bukan seniman bayaran, kami hanya orang-orang yang mencintai warisan nenek moyang kami. Kami datang untuk melihatnya tetap hidup di sini, dan kami menemukan saudara yang sama-sama menjaga nyala api itu,” ujarnya dengan suara bergetar. Pesannya pun menjadi renungan mendalam: tidak ada teknologi secanggih apa pun yang mampu menggantikan kehangatan tatapan mata dan ikatan hati antarmanusia.

Lisa Michiels selaku Ketua Yayasan menegaskan bahwa pertemuan ini adalah bukti nyata diplomasi budaya yang tulus. “Kami tidak sedang memamerkan warisan, melainkan merawatnya bersama. Kampung Tugu adalah bukti hidup bahwa perbedaan asal-usul bisa menyatu menjadi identitas yang kuat dan berharga,” ucapnya. Dukungan penuh pun datang dari Duta Besar Portugal untuk Indonesia, yang menilai momen ini sebagai perayaan persahabatan abadi kedua bangsa.

Perhelatan ini juga menjadi bagian istimewa dalam rangkaian peringatan 499 Tahun Kota Jakarta. Menunjukkan bahwa wajah kota yang modern dan global tak akan pernah lengkap tanpa mengakar kuat pada sejarah dan keragaman yang melekat pada setiap jengkal tanahnya.

Di penghujung malam, irama musik masih terdengar bergema. Bukan sekadar bunyi nada, melainkan janji bersama untuk terus menjaga obor persaudaraan yang dinyalakan nenek moyang berabad-abad lalu, agar terus bersinar menerangi jalan generasi mendatang di kedua belah samudra.

Johan Sopaheluwakan adalah Penulis dan Jurnalis, tinggal di Jakarta.

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *