TAMPERAK NEWS – BALIKPAPAN – Konferensi Nusantara Hari Doa Nasional 2026 yang diselenggarakan oleh Forum Umat Kristen Indonesia (FUKRI) bersama 8 Aras Gereja Nasional sukses digelar selama empat hari berturut-turut, mulai tanggal 2 hingga 5 Juli 2026, di Balikpapan dan Kawasan Ibu Kota Nusantara (IKN), Kalimantan Timur.
Acara pembukaan dilaksanakan pada Kamis, 2 Juli 2026 pukul 18.00 Wita di BSCC Dome Balikpapan, dihadiri sekitar 5.000 umat Tuhan. Hadir dalam kesempatan ini pimpinan delapan aras gereja nasional: KWI, PGI, PGLII, PGPI, PBI, GMAHK, Bala Keselamatan, dan GOI. Turut hadir pendeta, tokoh Kristen, pendoa, penginjil dari seluruh Indonesia, serta perwakilan dari luar negeri seperti Korea, Selandia Baru, Malaysia, Brunei, dan Amerika Serikat.
Dalam khotbah pembukaan, Ketua Majelis Pertimbangan (Maper) PGLII, Pdt. Dr. Ronny Mandang, mengangkat tema: “Api Doa dan Penginjilan Terus Menyala dari IKN Kalimantan Timur ke Bangsa-Bangsa” dengan merujuk pada Matius 28:19-20.
Pdt. Ronny menuturkan, sebelum tahun 2011 hubungan antar gereja di dunia sempat berjalan renggang. Namun Tuhan menumbuhkan kerinduan mendalam akan kesatuan, yang kemudian melahirkan gerakan kebersamaan melalui Global Christian Forum di Manado pada 4–7 Oktober 2011 dengan tema “Hidup Bersama dalam Kristus, Diberdayakan oleh Roh Kudus”. Momen itu menjadi tonggak sejarah ketika seluruh pimpinan gereja dunia hadir bersatu.

Kesatuan itu terus berlanjut dengan Konferensi Pekabaran Injil dan Deklarasi Damai di Papua pada tahun 2021. Menyentuh hati para peserta, Pdt. Ronny menyampaikan duka mendalam atas wafatnya Pdt. Melkianus Hakimbau yang gugur secara tragis. “Kehadiran kami di sini adalah bukti bahwa Papua belum damai, dan karena itu FUKRI harus membawa damai bagi seluruh Indonesia, bukan hanya di Papua,” ujarnya dengan semangat.
Sejarah Hari Doa Nasional juga berkaitan erat dengan undangan Pdt. Lipius Biniluk pada tahun 2021 untuk meresmikan Rumah Doa Segala Bangsa. Pdt. Ronny menceritakan momen berdoa di Gua Yatenok, Papua—tempat di mana ayah Pdt. Lipius, Pdt. Gembiri Biniluk, telah berdoa dan berpuasa selama bertahun-tahun. “Dari gua itulah semangat api doa itu bermula. Namun pertanyaannya: siapa yang akan menjaga agar api ini tidak padam? Bukan hanya FUKRI, melainkan seluruh gereja dan umat Kristiani di Indonesia,” tegasnya.
Tanggal 5 Juli dipilih bukan tanpa makna, karena bertepatan dengan momen sejarah Indonesia yang kembali menegakkan UUD 1945. “Jika kita ingin merdeka secara rohani dan hidup sejahtera, doa harus menjadi nafas bagi umat Kristen,” tambah Pdt. Ronny.
Sementara itu, Ketua Umum Panitia Pelaksana Hari Doa Nasional 2026 yang juga Wakapolda Kaltim, Fanny Jossy Kusumo, S.H., menyambut hangat kehadiran seluruh peserta. “Kehadiran Bapak/Ibu sekalian bukan sekadar tamu, melainkan keluarga besar yang berkumpul untuk mendoakan bangsa dan negara,” ujarnya.
Ia menambahkan, perjalanan Hari Doa Nasional telah berlangsung sejak Sentani tahun 2022, berlanjut ke Manokwari 2023, Kupang 2024, dan kembali ke Sentani 2025. “Tanggung jawab ini tidak ringan, namun kami percaya semakin banyak tangan bergandengan, pekerjaan besar pun akan dimampukan Tuhan,” ucapnya.
Pelaksanaan di Kalimantan Timur memiliki makna istimewa, bertepatan dengan tonggak baru pembangunan IKN. “Kehadiran kami di sini adalah wujud dukungan doa dan komitmen rohani umat Kristen bagi bangsa Indonesia,” jelas Fanny, seraya mengapresiasi dukungan penuh pemerintah daerah, aparat keamanan, donatur, dan seluruh relawan.
Ketua Steering Committee (SC) HDN 2026, Pdt. Dr. Samuel Kusuma, menegaskan tema acara terwujud nyata dengan kehadiran 37 orang dari Korea serta perwakilan dari Selandia Baru dan New York. Ia menutup dengan merujuk pada Yohanes 17:21: “Supaya mereka semua menjadi satu… supaya dunia percaya bahwa Engkaulah yang telah mengutus Aku”.
Sebagai tuan rumah sekaligus Ketua Umum PGLII, Pdt. Tommy O. Lengkong, M.Th., menyampaikan rasa syukur yang mendalam. “Bagi saya, Balikpapan adalah tempat kelahiran, tempat saya ditahbiskan menjadi pendeta, dan tempat saya terpimpin memimpin PGLII. Ini adalah berkat luar biasa,” ungkapnya.
Ia juga mengingatkan bahwa doa sekaligus merupakan berkat terbesar dan pergumulan terbesar umat beriman. “Doa mempertemukan kita dengan Tuhan, namun seringkali kita masih berat meluangkan waktu untuk berdoa. Karena itulah konferensi ini kami selenggarakan,” ujarnya. Pdt. Tommy juga menyampaikan terima kasih kepada Otorita IKN yang telah menyediakan tempat untuk rangkaian acara ini.
Rangkaian acara pembukaan berlangsung meriah dan penuh kehadirat Tuhan, dilayani oleh GBN BFOG Worship, Peace Ministry, Nusantara Dance, Korean Mission Choir, Paduan Suara Remaja LPPD Kaltim juara Pesparawi Merauke 2026, serta penyanyi Sari Simorangkir, Andy Ambarita, dan Grace Epiphania. Momen pembukaan ditandai dengan pemukulan genderang.

Wakil Presiden RI Gibran Rakabuming Raka menyampaikan sambutan secara virtual, menyambut baik penyelenggaraan konferensi ini sebagai momentum sejarah dalam mendoakan bangsa dan negara.
Acara ditutup dengan Doa Bagi Bangsa dan Negara yang dipimpin oleh Pdt. Prof. Daniel Ronda (Sekum PP PGLII), diikuti seluruh pimpinan FUKRI, delapan aras gereja, Ketua SC, panitia pelaksana, Wakil Gubernur Papua Tengah, Bupati Tolikara, Staf Khusus Kepala OIKN, Gubernur Kaltim, Kapolda Kaltim, Pangdam Mulawarman, Walikota Balikpapan, pimpinan DPRD Kaltim, serta tokoh lintas agama. Momen ini membuktikan secara nyata bahwa doa bagi Indonesia sangat diperlukan demi keselamatan dan kedamaian negeri tercinta. (Red/TN-001)
















