TAMPERAK NEWS – INDRAMAYU — 7 Agustus 2026 – Persoalan ketersediaan air kembali menghantui petani di Desa Segeran Kidul, Kabupaten Indramayu. Memasuki musim Gadu, sejumlah lahan sawah kemitraan PT Bumi Wira Lodra (BWI) mengalami kekurangan pasokan air irigasi. Bahkan, sebagian lahan tidak memperoleh air sehingga mulai mengering.
Kondisi tersebut terungkap saat Tim BWI melakukan peninjauan langsung ke areal persawahan kemitraan di kedua desa. Di tengah terbatasnya pasokan air, petani berupaya menyelamatkan tanaman dengan melakukan pompanisasi.
Namun, langkah tersebut belum mampu menjadi solusi bagi seluruh areal persawahan. Petani mengkhawatirkan apabila kondisi berlanjut, pertumbuhan tanaman padi terganggu dan berujung pada penurunan produksi, bahkan gagal panen.
Delapan Tahun Menghadapi Masalah yang Sama
Perwakilan petani, Warji, dan Sarinah, yang juga merupakan mantan Raksa Bumi, menyampaikan bahwa persoalan kekurangan air bukan masalah baru.
Mereka menyebut kondisi tersebut telah berlangsung sekitar delapan tahun dan berulang setiap musim Gadu.
Petani berharap persoalan yang telah berulang tersebut mendapat perhatian serius dari instansi terkait. Mereka mengaku sudah beberapa kali menyampaikan pengaduan mengenai kondisi jaringan irigasi, tetapi berharap kali ini ada penanganan yang lebih konkret di lapangan.
Bagi petani, persoalan air bukan sekadar masalah teknis pengairan. Ketersediaan air menentukan keberlangsungan tanaman, biaya produksi, hingga kepastian hasil panen.
Bangunan di Saluran Irigasi Dipersoalkan
Keluhan lain disampaikan Masduki, petani yang mengikuti program kemitraan PT BWI. Ia menyoroti adanya bangunan yang disebutnya berada di daerah aliran irigasi dan diduga menghambat aliran air menuju persawahan.
Menurut Masduki, kondisi saluran sebelumnya relatif lancar. Persoalan mulai dirasakan setelah terdapat bangunan di sekitar aliran tersebut.
“Sebelum ada bangunan itu, saluran irigasi cukup lancar dan air bisa sampai ke persawahan. Sekarang ada hambatan pasokan air,” ujar Masduki.
Keluhan tersebut menjadi perhatian karena apabila aliran irigasi terhambat, petani harus mengeluarkan biaya tambahan untuk melakukan pompanisasi. Pada saat yang sama, tidak semua lahan memiliki akses yang sama terhadap sumber air.
Petani Usulkan Embung di Segeran Kidul
Untuk mengantisipasi persoalan yang terus berulang, Tarjani mengusulkan pembangunan embung atau tempat penampungan air di Desa Segeran Kidul.
Menurut dia, embung dapat menjadi cadangan air yang bisa dimanfaatkan ketika pasokan dari jaringan irigasi menurun, khususnya pada musim Gadu.
“Sebisanya di Desa Segeran Kidul dibuatkan embung untuk penampungan air. Kalau ada cadangan air, kami berharap ketika pasokan irigasi berkurang, kebutuhan sawah masih bisa dipenuhi,” kata Tarjani.
Usulan tersebut dinilai menjadi salah satu opsi yang dapat dikaji lebih lanjut oleh pemerintah dan instansi teknis terkait, terutama jika persoalan kekurangan air memang berulang setiap musim Gadu.
Petani Butuh Kepastian, Bukan Sekadar Pompanisasi,
Pompanisasi menjadi langkah cepat yang dilakukan petani untuk mempertahankan tanaman. Namun, petani berharap solusi permanen tidak berhenti pada penyediaan pompa.
Mereka meminta dilakukan evaluasi menyeluruh terhadap jaringan irigasi, mulai dari sumber air, kondisi saluran, hambatan aliran, hingga kebutuhan pembangunan infrastruktur penunjang seperti embung.
Persoalan di Segeran Kidul juga menjadi pengingat bahwa keberhasilan program kemitraan pertanian tidak hanya ditentukan oleh bibit, pupuk dan pengelolaan lahan. Kepastian air menjadi salah satu faktor fundamental yang menentukan produktivitas sawah.
Karena itu, petani berharap pemerintah daerah dan instansi pengairan segera turun melakukan verifikasi kondisi jaringan irigasi serta mencari solusi bersama petani dan pihak terkait.Sebab, bagi petani, terlambat menangani persoalan air berarti mempertaruhkan satu musim tanam—dan sekaligus pendapatan keluarga mereka.
Reporter: Magdalena
















