TAMPERAK NEWS – JAKARTA – 01 Oktober 2026 – Peran Semangat dan Kekuatan Pancasila Menjaga Marwah dan Wibawa NKRI — Dulu, Kini, dan Masa Depan.
Oleh: Johan Sopaheluwakan, S.Pd., C.EJ., C.BJ., CLA-D., CPC., CPL
Pimpinan Redaksi TAMPERAK NEWS
1 Oktober 2026 — Hari Kesaktian Pancasila
PENDAHULUAN
Setiap tanggal 1 Oktober, bangsa ini tidak sekadar memperingati hari besar. Kita sedang merenungkan kembali satu hal yang menentukan ada atau tidaknya Negara Kesatuan Republik Indonesia: Pancasila. Bukan sekadar lambang, bukan sekadar bunyi lima butir — melainkan jiwa, dasar, dan jalan hidup bangsa yang terbukti mampu menyatukan ribuan pulau, ratusan suku, dan beragam keyakinan.
Kesaktian Pancasila bukanlah kekuatan gaib. Ia adalah kekuatan kebenaran yang disepakati. Ia tumbuh dari perjuangan, diuji oleh peristiwa berdarah, dan tetap tegak meski badai politik datang silih berganti. Hari ini, kita meninjau kembali maknanya dari tiga sudut pandang: Hukum, Sosiologis, dan Politis — lalu menentukan sikap apa yang harus kita ambil agar Pancasila tetap menjadi Way of Life, cara hidup bangsa, bukan sekadar tulisan di atas kertas.
I. TINJAUAN DARI ASPEK HUKUM
Secara hukum, Pancasila bukan sekadar doktrin moral. Ia adalah sumber dari segala sumber hukum di Indonesia. Tercantum dalam Pembukaan UUD 1945, diperkuat dengan ketetapan MPR, dan dijunjung sebagai dasar penyelenggaraan negara.
- Dulu: Pancasila diuji oleh upaya-upaya pemberontakan yang ingin menggantikan dasar negara. Hukum ditegakkan dengan ketegasan bahwa tidak ada ideologi lain yang boleh menggantikan Pancasila sebagai dasar negara.
- Kini: Tantangannya tidak lagi berupa senjata, melainkan penyimpangan dalam pelaksanaan. Ada yang mengaku ber-Pancasila tetapi melanggar hak asasi, ada yang bersumpah setia tetapi memihak pada kelompok sendiri. Dari sisi hukum, Pancasila menjadi tolok ukur kebenaran aturan: setiap undang-undang, kebijakan, hingga keputusan pejabat harus tidak bertentangan dengan nilai-nilai Pancasila.
- Masa Depan: Kita harus memastikan hukum benar-benar menjadi perisai yang adil. Tidak boleh ada warga negara yang merasa diperlakukan tidak adil karena beda suku, agama, atau pandangan politik. Jika hukum dijalankan dengan semangat Pancasila, marwah NKRI terjaga. Jika tidak, retakan akan muncul dari dalam.
“Pancasila adalah hukum tertinggi. Jika kita melanggarnya, kita melanggar perjanjian kemerdekaan itu sendiri.”
II. TINJAUAN DARI ASPEK SOSIOLOGIS
Secara sosiologis, Pancasila adalah jembatan keragaman. Indonesia lahir dari perbedaan yang disatukan. Tanpa Pancasila, perbedaan itu bisa menjadi tembok pemisah.
- Dulu: Para pendiri bangsa menyadari betul bahwa tanpa kesepakatan bersama, keberagaman bisa berubah menjadi perpecahan. Pancasila dirumuskan bukan untuk menghapus perbedaan, melainkan memberi tempat yang sama bagi semua.
- Kini: Keragaman masih ada, bahkan semakin terlihat. Tantangannya: perbedaan sering dijadikan alasan untuk saling curiga, saling mengucilkan, bahkan saling membenci. Di media sosial, di lingkungan kerja, di lingkungan sekitar — kita melihat bagaimana semangat persatuan terkikis oleh kepentingan kelompok.
- Masa Depan: Pancasila harus kembali menjadi cara bergaul. Menghormati yang berbeda, mendengar yang lain, dan merasa bahwa kemajuan tetangga juga kemajuan kita. Kesaktian Pancasila terlihat ketika kita bisa duduk bersama meski tidak sependapat — dan tetap merasa satu bangsa.
“Kekuatan terbesar Pancasila bukan di monumen, melainkan di hati setiap warga yang mau menerima sesama tanpa syarat.”
III. TINJAUAN DARI ASPEK POLITIS
Secara politis, Pancasila adalah kompas bernegara. Ia menentukan ke mana arah pemerintahan berjalan, siapa yang dilayani, dan untuk apa kekuasaan diberikan.
- Dulu: Pancasila menjadi pedoman agar negara tidak jatuh ke dalam kekuasaan yang menindas. Kekuasaan ada untuk rakyat, bukan sebaliknya.
- Kini: Ada kecenderungan memanfaatkan nama Pancasila untuk kepentingan kekuasaan — padahal tindakannya menjauh dari semangat keadilan dan kejujuran. Marwah NKRI tercoreng ketika pemimpin lebih mendengarkan suara kelompok pendukung daripada suara kebenaran.
- Masa Depan: Pancasila harus menjadi kendali kekuasaan. Setiap pemimpin, dari yang tertinggi hingga terkecil, harus ingat: jabatan adalah amanat, bukan hak. Wibawa negara tidak dibangun dengan kata-kata manis, melainkan dengan tindakan yang adil, jujur, dan melayani semua rakyat tanpa pilih kasih.
“Pancasila bukan alat pembenaran kekuasaan. Ia adalah penguji kejujuran setiap penguasa.”

IV. SIKAP YANG HARUS KITA KEMBANGKAN: MERAWAT PANCASILA SEBAGAI CARA HIDUP BANGSA
Pancasila tidak bisa hidup sendiri. Ia butuh penjaga — yaitu kita semua. Berikut sikap yang harus tumbuh dalam diri setiap warga bangsa:
1. MENGAMALKAN, BUKAN SEKADAR MENGUCAPKAN
Pancasila bukan hafalan upacara. Ber-Tuhan berarti jujur dan tidak menyakiti sesama. Beradab berarti sopan, menghormati, dan tidak merendahkan. Bersatu berarti tidak memecah belah. Berkerakyatan berarti mendengar suara rakyat. Keadilan berarti tidak mengambil hak orang lain.
2. MENJAGA KESATUAN DI TEMPAT TERDEKAT
Tidak perlu jauh-jauh. Mulai dari lingkungan rumah, sekolah, tempat kerja. Jika ada yang membenci kelompok lain, tegur. Jika ada yang dibeda-bedakan, bela. Itulah merawat Pancasila.
3. MENJAGA HUKUM TETAP BERWAIBAB
Jangan diam jika melihat ketidakadilan. Melaporkan pelanggaran, menegakkan kebenaran, tidak menutupi kesalahan — itu bagian dari menjaga marwah NKRI.
4. TIDAK MEMBIARKAN NAMA BANGSA RUSAK OLEH TINDAKAN SENDIRI
Korupsi, kebohongan, sikap memihak — itu meruntuhkan wibawa bangsa dari dalam. Setiap tindakan jujur, setiap pelayanan tulus, adalah perbaikan bagi nama Indonesia.
5. MEWARISKAN PANCASILA YANG HIDUP KEPADA GENERASI BERIKUTNYA
Jangan biarkan anak-anak hanya tahu lambangnya. Tunjukkan Pancasila lewat sikap kita. Biarkan mereka melihat bahwa ber-Pancasila berarti hidup bermartabat, saling menghormati, dan bangga menjadi bagian dari bangsa ini.
PENUTUP
Marwah dan wibawa NKRI tidak dijaga dengan senjata semata. Ia dijaga oleh kejujuran setiap warga, oleh keadilan setiap pemimpin, dan oleh semangat persatuan yang tak pernah padam.
Pancasila tidak turun dari langit sekali lalu selesai. Ia harus dihidupkan setiap hari. Di meja rapat, di jalan raya, di rumah tangga, di tempat kerja.
“Kesaktian Pancasila bukanlah masa lalu yang selesai diperingati. Ia adalah janji masa depan yang harus dipenuhi — oleh kita, hari ini.”
Selamat Hari Kesaktian Pancasila. Semoga bangsa ini tetap tegak, tetap bersatu, dan tetap menjadi rumah yang aman bagi seluruh anak bangsa.
Johan Sopaheluwakan, S.Pd., C.EJ., C.BJ., CLA-D., CPC., CPL
Pimpinan Redaksi TAMPERAK NEWS
1 Oktober 2026
















