Berita  

MENGIKUT YESUS BUKAN SEKADAR KLIK LIKE! Pdt. James Danar: Jangan Jadi Pengikut Yang Hanya Datang Saat Nyaman

banner 120x600
banner 468x60

TAMPERAK NEWS – BEKASI – 20 SEPTEMBER 2026 – Menjadi pengikut Kristus bukan sekadar perasaan hangat di hari Minggu atau semangat sesaat. Itulah pesan mendalam yang disampaikan Pdt. James Danar, A.Md. dalam ibadah Minggu, 20 September 2026, dengan mengambil Firman dari Matius 8:19–20 — “Biaya Mengikut Yesus.”

Dalam khotbahnya, Pdt. James mengajak jemaat merenungkan perbedaan mencolok antara pengikut di media sosial dan pengikut sejati Kristus. “Kalau ‘follower’ Yesus hanya menekan like dan follow saat senang, lalu unfollow saat kecewa — itu sama sekali berbeda dengan menjadi murid sejati,” tegasnya.

Siap Menjadi Gembala? — Pertanyaan Yang Menantang

Pdt. James menyampaikan pertanyaan yang menyentuh hati setiap orang yang melayani: “Apakah kita siap menjadi gembala?” Karena menjadi gembala berarti:

– Siap hati dicabik-cabik oleh jemaat, bukan hanya dicintai

– Siap dihubungi telepon di tengah malam saat sedang beristirahat

– Siap meninggalkan urusan keluarga sendiri untuk merawat anak-anak rohani jemaat — bahkan hingga sampai saat wafat

– Siap memikul salib dan hidup dalam ketidaknyamanan, demi kebenaran Tuhan

“Memikul salib berarti siap untuk tidak nyaman dalam hidup ini. Itulah harga yang harus dibayar oleh setiap orang yang sungguh-sungguh mengikut Yesus,” ujar Pdt. James dengan tegas.

Esensi Perkataan Yesus — Serius Mau Ikut Aku?

Mengambil kisah di Matius 8:19–20, di mana seorang ahli Taurat dengan antusias berkata “Guru, aku akan mengikut Engkau ke mana pun Engkau pergi,” Yesus justru menjawab bukan dengan janji kemudahan, melainkan dengan peringatan yang jujur:

“Serigala memiliki sarang dan burung di udara memiliki tempat berteduh, tetapi Anak Manusia tidak memiliki tempat untuk meletakkan kepala-Nya.”

Pdt. James menjelaskan makna mendalam perkataan Yesus ini:

1. Mengikut Yesus bukan keputusan emosional semata — bukan karena perasaan menggebu-gebu saat ibadah, lalu saat kecewa atau menghadapi kesulitan langsung pergi.

2. Siap hidup dalam ketidakpastian dan ketidaknyamanan — burung punya sarang, serigala punya tempat berlindung, tetapi Yesus tidak punya tempat tetap. Mengikut-Nya berarti siap tidak selalu berada di zona nyaman.

3. Konsekuensi pengikutan harus tertanam sejak awal — bukan setelah kesulitan datang baru terkejut dan mundur.

“Semangat sesaat tidak cukup. Pengikutan yang sejati dibuktikan dengan ketekunan, bukan dengan perasaan yang naik turun,” tegasnya.

Dasar Firman — Percaya, Bukan Hanya Merasa

Sebagai penutup, Pdt. James mengutip Amsal 3:5:

“Percayalah kepada TUHAN dengan segenap hatimu, dan janganlah bersandar kepada pengertianmu sendiri.”

Mengikut Yesus bukan soal apa yang kita rasakan saat ini, melainkan siapa yang kita percayai — bahkan ketika keadaan tidak sesuai harapan, bahkan ketika hati terluka, bahkan ketika jalan terasa sepi. Itulah bedanya antara sekadar pengikut dan murid sejati: yang satu pergi saat tidak nyaman, yang lain tetap bertahan karena tahu Siapa yang diikutinya.

Pesan Inti: Mengikut Yesus bukan sekali klik lalu selesai. Itu adalah keputusan hidup yang setiap hari harus diperbarui. Siap tidak nyaman? Siap tetap setia meski dihina? Siap melayani tanpa pamrih? Itulah biaya mengikut Yesus yang sesungguhnya.

Reporter : Johan Sopaheluwakan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *