TAMPERAK NEWS – JAKARTA – Ketua Bogor Raya Persaudaraan Timur Indonesia Raya (PETIR), Andre Kei Letsoin, menyampaikan kecaman paling tajam terhadap serangkaian peristiwa kekerasan, ujaran rasis, hingga pengeroyokan yang menimpa warga asal Indonesia Timur di wilayah Matraman, Jakarta Pusat. Menurutnya, perbuatan tersebut adalah tindakan terkutuk yang mencederai persatuan bangsa dan martabat kemanusiaan.
“Saya mengecam keras perbuatan biadab itu. Penyebutan suku yang melecehkan, kekerasan fisik, hingga pemerasan adalah perbuatan yang tidak beradab. Ini bukan sekadar perselisihan biasa, melainkan serangan terhadap keberagaman yang menjadi jati diri bangsa ini,” tegas Andre saat memberikan pernyataan pers, Senin (27/7/2026).
Andre meminta aparat kepolisian tidak saja menangkap pelaku yang terlihat di lapangan, melainkan wajib menelusuri dan menyeret ke meja hukum apa yang disebutnya sebagai aktor intelektual atau dalang yang mengomandoi aksi tersebut. “Jangan sampai yang diproses hanya pelaku biasa, sementara yang merancang dan menghasut tetap berjalan bebas. Usut sampai ke akar-akarnya,” desaknya.

Ia mengingatkan bahwa Indonesia adalah negara hukum. “Pembiaran terhadap perbuatan rasisme dan kekerasan sama artinya membiarkan benih perpecahan tumbuh subur. Kami minta hukum ditegakkan secara tegas, adil, dan tanpa pandang bulu. Jangan ada yang ditutup-tutupi demi alasan apa pun,” tandasnya.
Kepada seluruh masyarakat luas, khususnya warga asal Indonesia Timur yang merantau di Jabodetabek, Andre menghimbau agar tetap tenang, tidak terprovokasi, dan menjauhi tindakan anarkis. “Kita datang ke tanah rantau untuk berjuang, bukan membuat keributan. Sakit satu, kita semua merasakannya. Tapi kita lawan ini dengan persatuan, doa, dan serahkan sepenuhnya pada jalur hukum yang benar,” ujarnya mengajak.
Peristiwa ini kini menjadi perhatian serius berbagai elemen masyarakat. Andre berharap penanganan kasus ini menjadi bukti nyata bahwa hukum benar-benar memihak keadilan, dan tidak ada satu pun warga negara yang boleh diperlakukan sewenang-wenang hanya karena perbedaan asal usul dan suku. (Red)
















