TAMPERAK NEWS – GARUT – 09 Oktober 2026 – Dunia Pendidikan Tinggi kita hanya mengenal tiga program akademik yakni Program Sarjana (Strata-1 disingkat S1), Program Magister (Strata-2 disingkat S2), dan Program Doktor (Strata-3 disingkat S3). Lulusan ketiga program tsb berhak menyandang gelar akademik Sarjana, Magister, dan Doktor.
Khusus tentang Program Doktor, adalah salah besar apabila Program Doktor disebut program studi (disingkat Prodi?). Ia adalah program beyond studi. Di Program Doktor, mahasiswa digembleng untuk menjadi calon aktivis dalam memproduksi ilmu baru (activist in scientific knowledge production menurut istilah UNESCO dalam emailnya kepada saya di penghujung tahun 2005); ilmu baru (global novelty) yang berpotensi tinggi memiliki dampak global (global impacts).
Apakah ilmu yang diproduksi seseorang, baik yang dirumuskan dalam bentuk Disertasi S3 maupun dalam bentuk publikasi, merupakan ilmu baru? Nah, yang berhak dan berwenang menjawabnya adalah international peers. Sekali lagi, international peers dan bukan yang lain …!
Mengapa begitu? Karena, ilmu bersifat universal. Mengingat hal itulah, saya selalu menganjurkan agar,
1. Disertasi S3 ditulis dalam bahasa Inggris untuk memudahkannya memasuki perbincangan atau pergaulan di international scientific community (ISC), dan
2. Sebagian dari Disertasi itu diterbitkan di jurnal internasional berkelas.
Publikasi internasional berkelas wajib hukumnya bagi Dosen dan mahasiswa program Pascasarjana; ini HARGA MATI …! Bagi saya, harga mati artinya eksis dan cemerlang.
Jelas, Program Doktor BUKAN merupakan program studi. Ia adalah program untuk mahasiswa melatih dirinya dalam (1) melakukan riset independen kaliber internasional, dan (2) menerbitkan publikasi internasional berkelas. Tentu dibawah supervisi yang ketat.
SEBERAPA KETAT?
Semua penyandang gelar akademik Doktor, dari negara mana pun, theoretically adalah anggota ISC. Kapasitas intelektual atau kecerdasan seseorang yang bergelar Doktor (diluar skill dalam bidang ilmunya) dianggap setara dengan Doktor-Doktor lainnya di negara manapun. Mereka adalah para aktivis dalam memproduksi ilmu baru; mereka berada di ujung perbatasan (frontier) kemajuan ilmu dengan fondasi filosofis yang sama.
Nah, upaya penyetaraan itulah yang menuntut sistem supervisi yang ketat terhadap mahasiswa S3. Tradisi di berbagai negara maju, untuk menjamin kesetaraan kapasitas intelektual secara global, keketatan supervisi terhadap mahasiswa S3 kerap mengacu kepada “rumus 10 ribu jam.” Gagal menerapkan rumus ini, jangan terlampau berharap gelar Doktor akan mampu menjadi passport memasuki ISC.
KITA MASIH MENGISOLIR DIRI
Berbicara tentang tradisi penyelenggaraan Pendidikan Tinggi, harus kita akui bahwa bangsa kita masih mengisolir diri dari tradisi bangsa-bangsa maju. Akibatnya, kita semakin ketinggalan jauh dari mereka. Umpamanya (hanya untuk menyebut beberapa di antaranya),
1. Tradisi di ketiga program akademik S1, S2, dan S3 belum setara dengan tradisi di program Bachelor, Master, dan PhD di berbagai negara maju.
2. Tradisi di berbagai negara maju, ada yang namanya gelar DSc (Doctor of Science) yang umumnya diberikan setelah gelar PhD. Dalam sistem pendidikan tinggi kita, tidak dikenal gelar DSc.
3. Kita pun belum punya tradisi mendekatkan civitas academica, baik mahasiswa maupun Dosen, dengan para ilmuwan kaliber dunia seperti umpamanya dengan para peraih Nobel Prizes.
Terus terang, saya khawatir apabila praktik pendidikan kita hanya menghasilkan jago-jago kandang; cerdas namun tidak cemerlang.
Banyak hal yang harus kita benahi agar Pendidikan Tinggi kita menjadi lokomotif menuju kehidupan bangsa yang cemerlang. Jangan pernah dilupakan bahwa di era akhir 1960an hingga akhir 1970an Pendidikan Tinggi kita amat terpandang terutama di kawasan ASEAN. Mengapa saat ini terpuruk? Karena kita abai dalam memilih pemimpin; kita memerlukan pemimpin yang cemerlang. Ini juga HARGA MATI …!
REKOMENDASI
Pembangunan kehidupan bangsa yang cerdas dan cemerlang memerlukan sebanyak mungkin anak-anak bangsa yang cerdas, cemerlang, dan patriotik. Untuk itu, negara wajib menyediakan sistem pendidikan yang excellent; yang menjadi role model bagi bangsa-bangsa lain di dunia. Ini pun HARGA MATI …!
Kecerdasan anak-anak bangsa akan tampak dari, umpamanya, skor PISA. Namun, kecemerlangan anak-anak bangsa akan tampak dari pergaulan sehari-hari mereka bersama (1) berbagai anak bangsa lain di dunia yang sudah teruji cerdas dan cemerlang, dan (2) berbagai sumber STEM. Dalam hal ini, negara berkewajiban menyajikan masa depan anak-anak bangsa pada HARI INI …!
Pendidikan Tinggi berpotensi tinggi menjadi industri penghasil devisa yang luar biasa besarnya dan kontribusinya terhadap pembangunan ekonomi nasional dapat menandingi bahkan melampaui kontribusi sektor indusri konvensional. Industri ini murni berbasis SDM bukan SDA. Dan, tidak seperti SDA, SDM anak bangsa kita melimpah serta tak akan pernah habis asal dikelola dengan benar dan baik. Tengoklah, semua negara maju dibangun berbasis SDM; tidak ada satu pun negara maju yang dibangun berbasis SDA. Oleh karena itu, segera stop pembangunan Indonesia berbasis SDA. Mari kita segera mulai membangun Indonesia modern berbasis SDM …!
Indonesia memerlukan para pemimpin bangsa (Presiden beserta seluruh tim kabinetnya) yang memiliki basis STEM (Science, Technology, Engineering, dan Mathematics) yang kuat. Untuk itu, kepada para pemimpin bangsa saat ini, kita minta mempersiapkan generasi baru kepemimpinan bangsa di tahun 2029; generasi kepemimpinan bangsa yang berorientasi kepada kecemerlangan kehidupan bangsa. Orientasi kepada kecerdasan saja, jelas TIDAK CUKUP …!
Untuk kita camkan bersama, tidak ada negara maju yang tidak memiliki Perguruan Tinggi (PTN/PTS) yang hebat-hebat dalam bidang MIPA & Terapannya (Teknologi dan Engineering). Dan, tidak ada negara maju yang tidak mengandalkan Pendidikan Tinggi sebagai industri penghasil devisa. Nyata dengan jelas, hanya sistem pendidikan yang cemerlang yang akan membawa Indonesia ke era INDONESIA EMAS …!
PENUTUP
Saya akhiri refleksi di atas dengan pesan berikut yang khusus saya tujukan kepada Presiden RI 2024-2029, Pak Prabowo Subianto:
1. Dengarkanlah baik-baik The People’s NEWS. Kemudian, setelah Bapak mendengarkan dan memahaminya, wujudkanlah dengan segera …! Di sini, NEWS adalah singkatan dari Needs, Expectations, Wants, dan Satisfaction. Istilah NEWS ini dijelaskan dengan baik dalam buku pintar para profesional bidang Q-STEM (Quality Science, Quality Technology, Quality Engineering, dan Quality Management) karya Douglas C. Montgomery.
2. Periode 2024-2029 adalah kesempatan emas bagi Bapak untuk membangun Pendidikan Tinggi sebagai industri besar penghasil devisa. Insyaa AllaaH, pembangunan industri ini akan menjadi legacy Bapak yang unik dan tak akan tertandingi sepanjang zaman. Inilah pintu gerbang pembangunan Indonesia berbasis SDM menuju pintu gerbang berikutnya yakni pintu gerbang Indonesia Emas (bukan di tahun 2045. Probabilitasnya NOL bahwa Indonesia Emas akan dicapai di tahun 2045. Yang jelas, insyaa AllaaH, di tahun 2045 kita akan merayakan Hari Ulang Tahun Emas Republik Indonesia).
3. Selamat bertugas mewujudkan The People’s NEWS dan merintis pembangunan Industri Pendidikan Tinggi, Pak Presiden …!
Catatan:
Kepada para sahabat, jika berkenan, mohon bantuan agar pesan ini bisa sampai kepada beliau.
Semoga Tuhan Yang Maha Esa memberkati kita semua dan Indonesia.
Salam hormat dari Garut,
Maman A. Djauhari (Pensiun dari ITB tahun 2009)
Activist in scientific knowledge production, kata UNESCO dan AEGIS (Australian Experts Group in Industry Studies).
Red/JS
















