Ketika Manusia Menolak, Tuhan Menerima — Orang Kusta yang Tak Punya Harapan Disembuhkan Yesus, Ibadah GBI Sangkakala Tegaskan: Pengharapan Hanya di Dalam-Nya

banner 120x600
banner 468x60

Faktual.net – Jakarta Timur, DKI Jakarta – Minggu, 6 September 2026 — Ditolak masyarakat, dikucilkan, dianggap kena kutuk, dan tidak ada obat yang mampu menyembuhkan — itulah kondisi orang sakit kusta pada zaman Yesus. Namun di saat semua pintu tertutup rapat, satu pintu tetap terbuka: pintu hati Yesus. Kisah ini menjadi inti Ibadah Minggu GBI Sangkakala, Minggu (6/9/2026), yang dilayani Pdt. Cornelius Nababan, SmTh.,  dengan Firman Tuhan dari Matius 8:1–4, serta diperkaya kesaksian Johan Sopaheluwakan dan dipimpin WL Gloria Tanamal.

DIKUCILKAN DAN TAK DIANGGAP MANUSIA, TAPI DITERIMA YESUS

Pdt. Nababan membuka pemaparan dengan menyoroti betapa beratnya beban orang sakit kusta di masa lalu. Secara sosial, medis, maupun agama, ia sudah dianggap tidak ada harapan.

“Sakit kusta pada zaman itu pasti diasingkan dan dianggap orang ini kena kutukan Tuhan. Tidak ada tempat buat orang yang menderita sakit, tidak boleh bergaul, bercampur aduk dengan orang-orang yang normal. Secara sosial tidak ada tempat bagi orang ini.” — Pdt. Nababan

Namun di tengah keterbatasan dan penolakan itu, orang kusta itu memiliki satu kelebihan yang tidak dimiliki ribuan orang sehat di sekitarnya: ia tahu ke mana harus pergi. Ia tidak mencari bantuan kepada manusia, melainkan berlutut di hadapan Yesus dan berkata: “Tuhan, jika Engkau mau, Engkau dapat mentahirkan aku.”

“Ia rindu ketemu dengan Yesus. Apapun keadaan kita, panggil nama-Nya. Tangan Tuhan tetap terbuka menolong kita.” — Pdt. Nababan

Tanpa ragu, Yesus mengulurkan tangan, menyentuh orang itu dan berkata: “Aku mau, jadilah tahirlah engkau.” Seketika itu juga penyakitnya hilang. Sebuah penyembuhan yang tidak mungkin dilakukan manusia, menjadi kenyataan karena iman yang datang kepada Tuhan.

TUBUH MEMBURUK, TAPI ROH TETAP MENYALA — ITULAH KEKUATAN ORANG PERCAYA

Pdt. Nababan menegaskan satu kebenaran yang sering dilupakan di tengah kesulitan hidup: kondisi fisik maupun keadaan dunia tidak menentukan kekuatan iman kita.

“Meskipun jasmani kita semakin merosot, orang yang tinggal di dalam Tuhan tetap bersemangat dan menyala-nyala. Orang percaya idealnya tidak tergantung oleh apapun yang dialami. Meskipun daging semakin lemah, tubuh semakin memburuk, tapi roh tidak bisa digerogoti oleh sakit daging. Karena ada Yesus tempat bersandar-Nya yang senantiasa memberikan kekuatan.” — Pdt. Nababan

Ia mengingatkan bahwa mudah bersyukur saat hidup baik, tetapi keaslian iman teruji justru saat keadaan sulit. Gereja boleh sepi, ekonomi boleh tertekan, tetapi Tuhan tidak pernah berubah.

“Banyak orang bisa mengucap syukur di tengah-tengah situasi yang baik. Tapi sebagai orang percaya kita harus terus bergantung dan berpengharapan kepada-Nya. Bukan karena keadaan baik, tapi karena Tuhan itu baik.” — Pdt. Nababan

TUHAN BEKERJA DI BALIK SETIAP KEADAAN — KESAKSIAN JOHAN SOPAHELUWAKAN

Dalam kesaksiannya, Johan Sopaheluwakan menegaskan bahwa Tuhan sering kali menyiapkan pertolongan dari jalan yang tidak kita duga sama sekali.

“Tuhan yang menyembuhkan orang kusta ini, Ia juga yang bisa memulihkan keadaan kita. Jangan pernah berharap kepada manusia semata-mata, makanya Tuhanlah yang kita percaya.” — Johan Sopaheluwakan

KESIMPULAN: TIDAK ADA YANG MUSTAHIL BAGI TUHAN

Ibadah ini meninggalkan pesan yang menguatkan setiap jiwa: tidak ada situasi yang terlalu sulit bagi Tuhan, tidak ada penyakit yang terlalu berat bagi Yesus, dan tidak ada keadaan yang dapat memisahkan kita dari kasih-Nya. Seperti orang kusta yang datang tanpa pengharapan lain dan disembuhkan, demikian pula setiap orang percaya diajak untuk datang kepada-Nya — apa pun yang sedang dialami.

“Jangan pernah berubah. Jangan lupa semua kebaikan Tuhan yang pernah dialami. Tangan Tuhan tidak pernah diperpendek untuk menolong.” — Pdt. Nababan

Red/JS

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *