Tamperaknews.my.id | Nagan Raya – Gubernur PEMA FISIP Universitas Teuku Umar (UTU), Fuadi, menyampaikan sikap terkait berkembangnya wacana dan aktivitas investasi pertambangan di kawasan Beutong Ateuh Banggalang, Kabupaten Nagan Raya. Menurutnya, setiap investasi yang masuk ke daerah harus memperhatikan keseimbangan antara pertumbuhan ekonomi, kelestarian lingkungan, dan kepentingan masyarakat setempat.
Fuadi menegaskan bahwa mahasiswa tidak anti terhadap investasi maupun pembangunan. Namun, investasi yang hadir di Aceh harus dijalankan secara bertanggung jawab dengan mempertimbangkan dampak sosial dan lingkungan yang dapat ditimbulkan di masa mendatang.
“Kami mendukung pembangunan dan investasi yang memberikan manfaat bagi masyarakat. Akan tetapi, pemerintah dan pihak terkait tidak boleh mengabaikan potensi dampak lingkungan serta aspirasi masyarakat yang hidup dan bergantung pada kawasan tersebut,” ujar Fuadi.
Menurutnya, Beutong Ateuh merupakan kawasan yang memiliki nilai ekologis yang sangat penting. Selain menjadi kawasan penyangga lingkungan, wilayah tersebut juga menjadi sumber kehidupan bagi masyarakat yang menggantungkan aktivitas ekonomi dan sosialnya pada kelestarian alam yang ada.
Oleh karena itu, Fuadi mendesak Pemerintah Daerah Nagan Raya, Pemerintah Aceh, dan seluruh pihak terkait untuk mengedepankan prinsip transparansi serta melibatkan masyarakat, akademisi, dan berbagai elemen sipil dalam setiap proses pengambilan keputusan terkait investasi pertambangan di Beutong Ateuh.
“Pemerintah harus membuka ruang dialog yang seluas-luasnya. Jangan sampai kebijakan yang diambil hanya mempertimbangkan keuntungan ekonomi jangka pendek, sementara risiko yang akan ditanggung masyarakat dan lingkungan berlangsung dalam jangka panjang,” tegasnya.
Sebagai representasi mahasiswa di lingkungan FISIP UTU, Fuadi menilai bahwa berbagai kekhawatiran masyarakat terkait potensi kerusakan lingkungan alam, berkurangnya kualitas sumber ekonomi seperti Air, dan kebutuhan lainnya, serta ancaman terhadap keberlanjutan ekosistem seperti hewan hewan dan tumbuhan yang harus menjadi perhatian serius sebelum pemerintah mengambil keputusan yang bersifat strategis.
Lebih lanjut, ia menegaskan bahwa mahasiswa akan terus mengawal isu ini sebagai bagian dari tanggung jawab moral dan fungsi kontrol sosial terhadap kebijakan publik.
“Kami mendesak pemerintah untuk benar-benar mendengar aspirasi masyarakat dan mempertimbangkan berbagai kajian yang ada. Jika berbagai masukan, kritik, dan suara masyarakat terus diabaikan, maka jangan salahkan mahasiswa apabila mengambil sikap dan melakukan gerakan sesuai dengan peran dan tanggung jawabnya sebagai agen perubahan serta pengawal kepentingan rakyat, gerakan mahasiswa bukanlah bentuk penolakan terhadap pembangunan, melainkan upaya untuk memastikan bahwa setiap kebijakan yang lahir benar-benar berpihak kepada masyarakat serta menjaga keberlanjutan lingkungan bagi generasi yang akan datang. “kata Fuadi.
Ia menambahkan “Mahasiswa akan selalu berdiri bersama masyarakat dalam memperjuangkan keadilan, transparansi, dan keberlanjutan lingkungan. Kami berharap pemerintah tidak menutup mata terhadap berbagai kekhawatiran yang berkembang di tengah masyarakat Beutong Ateuh. Lingkungan yang terjaga adalah warisan bagi masa depan, dan itu tidak boleh dikorbankan oleh kepentingan sesaat,” tutupnya.
















