Tamperak News – Bogor, Jawa Barat – Jumat, 27 Maret 2206 – Bacaan: Lukas 15:11–24 – Ada satu kebohongan rohani yang sering kita pelihara diam-diam:
kita berpikir harus layak dulu, baru boleh kembali kepada Tuhan.
Makanya banyak orang menunda pulang.
Menunda bertobat.
Menunda mendekat.
Bukan karena tidak mau…
tetapi karena merasa belum pantas.
Padahal masalahnya justru di situ.
Ia tidak pulang sebagai anak yang berhasil.
Ia pulang sebagai orang yang gagal total.
Uangnya habis
Hidupnya hancur
Harga dirinya runtuh
Ia bahkan sempat ingin makan makanan babi.
Dan di titik itu, ia sadar satu hal:
ia tidak layak.
Tapi anehnya… justru di titik itu, ia mulai bergerak pulang.
Banyak orang tidak kembali kepada Tuhan bukan karena tidak percaya,
tetapi karena merasa belum siap.
Masih ada dosa.
Masih ada kebiasaan buruk.
Masih belum “rapi”.
Lalu berpikir:
“Nanti saja kalau sudah benar-benar berubah.”
Padahal kalau harus menunggu layak dulu,
tidak akan pernah ada yang pulang.
Ini bagian yang paling “tidak masuk akal”.
Saat anak itu kembali, bapanya tidak berkata:
“Perbaiki dulu dirimu.”
Ia tidak berkata:
“Buktikan dulu keseriusanmu.”
Ia tidak berkata:
“Kamu sudah terlalu jauh.”
Yang ia lakukan justru ini:
berlari, memeluk, dan memulihkan.
Tanpa syarat.
Tanpa seleksi.
Tanpa tes kelayakan.
Kenapa banyak orang sulit menerima anugerah?
Karena anugerah meruntuhkan kebanggaan.
Anugerah berkata:
“Kamu diterima, bukan karena kamu pantas—tetapi karena Aku mengasihi.”
Dan itu sulit diterima oleh orang yang masih ingin “berkontribusi” pada keselamatannya sendiri.
Yesus tidak mati untuk orang yang sudah baik.
Ia mati untuk orang yang berdosa.
Artinya:
kita tidak datang kepada Tuhan dengan membawa kelayakan,
tetapi dengan membawa kebutuhan.
Dan justru di situlah anugerah bekerja.
“Wong sing rumangsa bisa, bakal kalah karo sing gelem sinau.”
(Orang yang merasa sudah bisa akan kalah dengan yang mau belajar.)
Demikian juga secara rohani:
orang yang merasa sudah cukup baik sering justru paling jauh dari anugerah.
RENUNGAN MENOHOK:
Yang menghalangi kita datang kepada Tuhan bukan dosa kita…
tetapi rasa “cukup baik” kita.
Kalau hari ini Anda merasa:
tidak layak
terlalu jauh
terlalu kotor
terlalu gagal
justru itu alasan untuk pulang.
Karena Tuhan tidak sedang mencari orang yang sempurna.
Tuhan sedang menunggu orang yang mau kembali.
Anda tidak perlu layak untuk pulang—Anda hanya perlu mau pulang.
Penulis:
Ev. Kefas Hervin Devananda, SH, S.Th, M.Pd.K
Jurnalis Senior, Penggiat Budaya dan Rohaniawan pada Sinode GPIAI










