JAKARTA — Reformasi 1998 kerap dimaknai sekadar perubahan politik dan pergantian kekuasaan. Namun, dalam pandangan sejumlah tokoh dan akademisi, reformasi sejati adalah upaya membuka wawasan bangsa agar mampu melihat jati diri yang hakiki: merawat kebhinekaan, menegakkan keadilan, dan membangun peradaban damai.

Refleksi itu mengemuka dalam Seminar Nasional Dialog Kebangsaan bertema “Merawat Nalar Sehat Bangsa demi Peradaban Damai”, rangkaian Dies Natalis ke-40 Sekolah Tinggi Teologi (STT) IKAT Jakarta, Kamis (29/9/2025). Seminar menghadirkan Dr. Shri I Gusti Ngurah Arya Wedakarna Mahendradatta Wedasteraputra Suyasa III, S.E., M.Tru., M.Si., Senator DPD RI sekaligus tokoh muda Hindu, dengan moderator Dr. Ashiong Munthe, M.Pd.Di Auditorium STT IKAT Jl. Rempoa Bintaro Jakarta hari Kamis (25/9/2025) pukul 09.00-12.00 wib.

Dalam paparannya, Wedakarna menekankan pentingnya keterbukaan dalam menghadapi realitas bangsa yang majemuk. Ia mencontohkan sejarah abad ke-4 hingga ke-7 ketika peradaban Sriwijaya bertahan selama 300 tahun, dan bagaimana bangsa-bangsa besar mampu bangkit dan runtuh karena tidak mampu mengelola perbedaan.

Di hadapan peserta, Wedakarna mengingatkan generasi muda, khususnya mahasiswa teologi, agar bijak menggunakan media sosial. “Status WhatsApp, unggahan Instagram, atau video TikTok adalah rekam jejak digital yang suatu hari bisa menentukan masa depan kalian. Jangan sekadar mencari perhatian, tetapi tunjukkan integritas,” ujarnya.
Wedakarna juga menyoroti dinamika global yang penuh tantangan, mulai dari menguatnya gerakan sayap kanan hingga polarisasi antaragama dan antarbangsa. Namun, ia optimistis masa depan akan dimenangkan oleh mereka yang berpegang pada nilai spiritual, berpikir positif, serta tetap terbuka pada keberagaman.

Khusus bagi generasi muda Kristen, Wedakarna berpesan agar menjadi pancasilais sejati. “Jangan hanya dikenal di lingkungan sendiri, tapi hadirkan kasih Kristus dalam perjumpaan dengan semua orang. Mengikuti berita lintas agama, mempelajari budaya lain, dan menghormati keyakinan berbeda akan memperluas wawasan serta memperkuat nalar sehat,” katanya.
Mengutip pengalamannya di Bali, Wedakarna menegaskan bahwa kesaksian iman tak selalu harus disampaikan dengan kata-kata. “Keramahan, kebersihan, dan penghormatan kepada sesama membuat jutaan orang asing datang ke Bali setiap tahun, banyak yang tertarik pada nilai spiritual Hindu. Itu bukti bahwa iman paling nyata diwujudkan lewat sikap hidup,” ungkapnya.
Ia juga menekankan bahwa Pancasila adalah titik temu bangsa yang sejalan dengan nilai-nilai spiritual berbagai agama. “Bagi Hindu, Pancasila bisa dibaca dalam konteks Weda. Bagi Islam, nilainya sejalan dengan Al-Qur’an. Bagi Kristen, Pancasila lahir dari pergulatan Bung Karno di Ende bersama tokoh-tokoh gereja. Pancasila adalah warisan spiritual bangsa yang harus kita jaga bersama,” jelasnya.

Mengaitkan dengan konteks global, Wedakarna menyinggung kebijakan Jerman tahun 2015 yang menerima banyak pengungsi dari Timur Tengah. Menurutnya, langkah tersebut membawa dampak besar pada perubahan sosial dan budaya Eropa. Ia mengingatkan, sebagaimana diungkapkan Donald Trump, bahwa peradaban Barat pun berada dalam ancaman jika tidak mampu menjaga jati diri.
“Kita tidak boleh hanya berada di zona nyaman. Saya pun tidak akan bisa menjadi seorang senator yang terbuka kalau saya tidak keluar dari pulau saya sendiri,” tegasnya
Dalam paparannya, Arya Wedakarna menekankan pentingnya menjaga nalar sehat di tengah derasnya arus informasi dan polarisasi politik. “Indonesia dibangun di atas kebhinekaan. Reformasi tidak boleh berhenti pada kebebasan formal, tetapi harus melahirkan cara berpikir yang jernih, rasional, dan bijaksana. Itulah jalan menuju peradaban damai,” tegasnya.
Wedakarna juga mengingatkan perlunya mengelola perbedaan frekuensi dalam masyarakat. “Kita akan berhadapan dengan kelompok yang berbeda—ada fundamentalis, ada yang moderat, bahkan dalam setiap agama pun ada spektrum yang beragam. Yang penting, bagaimana kita sebagai bangsa menjadikan konflik itu sebagai kekuatan, bukan ancaman,” katanya.
Mengelola Konflik dengan Bijak, Beliau menegaskan, jangan terjebak dalam konflik horizontal. Fokusnya adalah menjaga persatuan bangsa di tengah perbedaan.
Menghargai Peradaban dan Dialog Lintas Agama. Menyebut contoh buku Jesus Lived in India yang menunjukkan bagaimana Yesus dihormati dalam perspektif masyarakat India. Menegaskan pentingnya mencari persamaan-persamaan dalam dialog antaragama, bukan perbedaan.
Ketua Umum PEWARNA Indonesia, Yusuf Mujiono, yang turut hadir, menilai dialog kebangsaan semacam ini penting untuk mengingatkan masyarakat akan makna reformasi yang hakiki. “Wartawan dan akademisi harus menjadi jembatan informasi yang sehat. Tanpa nalar sehat, reformasi kehilangan ruhnya dan bisa berubah menjadi konflik kepentingan semata,” ujarnya.
Rektor STT IKAT adalah Pdt. Dr. Jimmy Lumintang, M.Th., MBA menambahkan bahwa Dies Natalis ke-40 menjadi momentum memperkuat peran kampus dalam menyalakan obor reformasi yang sesungguhnya. “Reformasi membuka wawasan kita tentang apa yang hakiki: persaudaraan, keadilan, dan keberadaban. Tugas kita adalah merawatnya melalui pendidikan, dialog lintas iman, dan keterlibatan aktif dalam masyarakat,” katanya.
Seminar yang diikuti sivitas akademika serta publik melalui Zoom Dr. Shri I Gusti Ngurah Arya Wedakarna Mahendradatta Wedasteraputra Suyasa III, S.E., M.Tru., M.Si. Meeting itu berlangsung dinamis, dengan tanya jawab yang mempertemukan perspektif lintas iman dan generasi. Dari ruang akademik, refleksi ini diharapkan mengalir ke ruang publik sebagai kesadaran bersama bahwa reformasi adalah jalan panjang menuju Indonesia yang lebih inklusif, sehat secara nalar, dan damai dalam peradaban.
Reporter Suwidodo
















