JAKARTA – Aula Paroki Kosambi Baru menjadi saksi berlangsungnya diskusi lintas agama yang diselenggarakan oleh Seksi HAAK Paroki Kosambi Baru bekerja sama dengan Komite Lintas Agama Jakarta Barat, Rabu (17/9). Acara ini menghadirkan narasumber : H. M. Matsani, M.Si. (Kaban Kesbangpol DKI Jakarta).
Profil Singkat H. M. Matsani, M.Si. saat ini menjabat sebagai Kepala Badan Kesatuan Bangsa dan Politik (Kesbangpol) Provinsi DKI Jakarta. Beliau dikenal sebagai birokrat yang memiliki pengalaman panjang dalam bidang pemerintahan, khususnya yang berkaitan dengan pembinaan ketahanan bangsa, politik, serta kerukunan masyarakat.
Dalam tugasnya, Matsani menekankan pentingnya dialog lintas agama, edukasi toleransi, dan keterlibatan seluruh elemen masyarakat untuk menjaga keamanan dan ketertiban di ibu kota. Ia juga aktif mendorong terciptanya komunikasi yang harmonis antara pemerintah, tokoh agama, tokoh masyarakat, dan warga, agar Jakarta tidak hanya menjadi kota yang modern dan terbuka, tetapi juga tetap berakar pada nilai budaya bangsa serta persaudaraan lintas iman.

Mentari bersinar hangat di atas langit ibu kota, menyinari sebuah pertemuan penting yang mempertemukan tokoh lintas agama dalam suasana penuh persaudaraan. Acara diskusi lintas iman ini digelar dengan semangat kebhinekaan, mengingatkan bahwa meski cara berdoa berbeda, bangsa Indonesia tetap bersatu dalam harmoni.
Kepala Badan Kesatuan Bangsa dan Politik (Kesbangpol) Provinsi DKI Jakarta, H. M. Matsani, M.Si., menegaskan bahwa keberagaman Jakarta adalah sekaligus kekuatan dan tantangan. Jika tidak dikelola dengan baik, perbedaan dapat menimbulkan gesekan. Namun, jika dirawat bersama, perbedaan justru akan menjadi kekuatan bangsa.

“Kerukunan dan toleransi bukan hanya penting bagi kehidupan sosial, tetapi juga memiliki dampak besar bagi masa depan bangsa. Jakarta saat ini bergerak menuju visinya sebagai kota global. Maka menjaga kerukunan bukan sekadar kebutuhan sosial, tetapi bagian dari strategi membangun Jakarta sebagai kota modern, terbuka, dan berdaya saing global,” ujar Matsani.
Menurutnya, menjaga kerukunan tidak bisa dilakukan pemerintah saja. Diperlukan energi yang kuat dari semua pihak dalam hal ini aparat keamanan, tokoh agama, tokoh masyarakat, dan seluruh warga Jakarta. Ancaman terbesar bukanlah perbedaan itu sendiri, melainkan jika perbedaan dibiarkan menjadi sumber permusuhan.
“Kita harus memelihara persaudaraan, menjaga toleransi, dan menghargai perbedaan. Forum lintas agama seperti hari ini sangat penting, karena suara para tokoh agama mampu menghasilkan kedamaian, meredakan perbedaan, serta memperkuat persaudaraan di tengah masyarakat,” tegasnya.
Matsani juga menegaskan komitmen Pemprov DKI Jakarta untuk selalu terbuka terhadap aspirasi masyarakat, termasuk terkait rumah ibadah. Ia mencontohkan, banyak permohonan pembangunan rumah ibadah yang dapat difasilitasi melalui komunikasi yang baik.
“Pemerintah hadir untuk semua. Gubernur Jakarta sudah mencontohkan bagaimana seorang pemimpin harus hadir di manapun masyarakat berada. Iklim sosial yang kondusif akan mendukung investasi, perekonomian, serta kerjasama internasional Jakarta,” jelasnya.

Acara dialog lintas agama ini ditutup dengan ajakan agar seluruh masyarakat menjaga kebhinekaan bukan sekadar sebagai simbol, tetapi sebagai kekuatan nyata. Dengan peran tokoh agama, komunitas, dan pemerintah yang berjalan beriringan, Jakarta diharapkan dapat terus menjadi kota yang aman, damai, dan mendunia.
Reporter: Suwidodo
















