Indonesia Miliki Dua Perwakilan di Komite Internasional, Acara Jaringan di Museum Bahari Jakarta

banner 120x600
banner 468x60

Tamperak News – Jakarta Utara, Rabu (28 Januari 2026) – Dalam acara Networking Event yang diselenggarakan pada hari ini pukul 13:30 hingga 16:00 di Ruang Ir. H. Djuanda, Museum Bahari Jakarta (Jalan Pasar Ikan No. 1, Penjaringan, Jakarta Utara), diumumkan bahwa Indonesia memiliki dua perwakilan di Komite Internasional ICOM (International Council of Museums) untuk masa jabatan 3 tahun ke depan.

Selain perwakilan dari komite pendidikan dan aksi budaya, Wulan – anggota biasa di divisi manajemen kepemimpinan museum – juga akan menjadi bagian dari dewan direktur ICOM. Kedua perwakilan tersebut dari tim Musee.id berkomitmen untuk memaksimalkan tugas dengan membangun jejaring dan kemitraan luas. Acara tahunan ini digelar bersama Museum Bahari Jakarta, yang tahun lalu telah menjangkau 7 kota hingga ke Ambon dengan dukungan Bank Indonesia dan Museum Bank Indonesia.

Tahun ini, pihaknya lebih ambisius dengan memperluas jangkauan melalui beberapa program, antara lain Bahari Homescreen Festival Cerita Kota dan program bahasa Inggris yang telah memasuki tahap ketiga. Perwakilan tim Musee.id juga menyampaikan bahwa kini semakin banyak melibatkan sektor swasta untuk berkontribusi dalam penguatan program museum, dengan kolaborasi sedang berjalan di Kabupaten Gresik dan dalam tahap pendekatan untuk Kabupaten Sumbawa.

Kepala Museum Bahari Jakarta Ary menyampaikan harapan agar tempat ini dapat lebih bermanfaat bagi masyarakat sekitar dan menjadi inspirasi dengan nilai ekonomi. “Impian kami adalah di Penjaringan ada kelaster yang dikawal untuk melatih pembuatan parfum rempah, mengingat kawasan ini populer pada era Batavia,” ujarnya. Ia juga menambahkan bahwa pihaknya telah bekerja sama dengan berbagai pihak dan berharap kolaborasi dengan ICOM Indonesia dapat terus menggelorakan semangat mencintai museum.

Museum Bahari Jakarta mengelola beberapa objek wisata sejarah, antara lain Menara Syahbandar, Jembatan Kota Intan, Rumah Pitung, Masjid Al Alam, serta Museum Arkeologi Onrust di Kepulauan Seribu yang mencakup Pulau Onrust, Cipir, Kelor, dan Benteng Marcello. Di lantai dua museum telah ada mini immersive yang menggambarkan sejarah kawasan Sunda Kelapa selama 10 menit, serta pojok-pojok aktif untuk menarik minat generasi muda.

Rumah Pitung telah mengalami perbaikan dengan penambahan detail sejarah kampung Marunda melalui 10 realis di dinding pagar, mini bioskop, film animasi, dan pojok interaktif untuk mengenali musik tradisional Betawi. Sedangkan untuk Museum Arkeologi Onrust, akan ada bioskop arsip dengan film sejarah menggunakan teknologi AI dan beberapa pengembangan lain yang belum dapat diungkapkan. Pemprov DKI Jakarta telah meluncurkan kapal wisata ke pulau sejarah tersebut dengan tiket PP hanya Rp 49.000.

Kolonel Edy dari Museum Maritim Surabaya menyampaikan bahwa museum yang baru dibuka untuk umum pada awal tahun 2024 telah meraih penghargaan sebagai salah satu smart museum terbaik. Dinas Sejarah Angkatan Laut yang awalnya merupakan kelembagaan kecil kini telah berkontribusi secara internasional sebagai narasumber dalam diplomasi terkait permasalahan wilayah perbatasan. “Kita telah menggali dan meluruskan informasi sejarah, termasuk mengenai kekuasaan kerajaan maritim Indonesia di abad Kerajaan Kediri yang memiliki otoritas di Selat Malaka,” jelasnya.

Museum Maritim Surabaya memiliki tiga area utama yang menggunakan teknologi multimedia, mulai dari hologram penyambut pengunjung, zona pameran peralatan senjata angkatan laut, hingga gedung bioskop yang menampilkan sejarah angkatan laut dari masa kemerdekaan hingga kini. Gedung terakhir merupakan replika 1:1 kapal Raden Eddy Martadinata yang menyerupai kapal modern KRI Fatahillah, yang menjadi daya tarik khusus bagi anak-anak. Kepala museum yang merupakan mantan pasukan katak juga telah berhasil mengembangkan koleksi dari barang-barang yang semula terlantar di gudang persenjataan.

Ketua Maritim Muda Indonesia, Fahri, menyampaikan bahwa anak muda memiliki semangat namun sering bingung mencari wadah, sehingga mengusulkan agar Museum Bahari Jakarta dapat menjadi sekretariat bagi komunitas kemaritiman dan sejarah di Jakarta. Ia juga mengumumkan program “Indonesia Back to the Waters” untuk mengembalikan jati diri bangsa sebagai negara maritim. Selain itu, ia mengusulkan agar desain uang dengan motif maritim dan pahlawan maritim lainnya selain Ir. H. Djuanda dapat dipamerkan sebagai daya tarik tambahan di museum. Kepala Museum Bahari Jakarta Ary menutup dengan mengajak semua pihak untuk bergandeng tangan dalam menyongsong HUT Jakarta yang akan segera tiba.

Reporter: Mayuli Setiawati

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *