Tamperak News – Jakarta, 17 Januari 2026 – Cerita macet ternyata masih menjadi tranding topik yang tak habis habisnya dibahas oleh masyarakat kota, terkhusus kota besar seperti DKI Jakarta.
Yang lebih ironisnya lagi kemacetan terjadi di depan sekolah, tempat di mana dunia pendidikan memberi suatu pelajaran attitude dan perilaku adab, sopan santun dan hidup tertib kepada siswanya, agar hidup lebih dapat memahami sebuah sistem pendidikan yang lebih baik.
Namun di balik itu semua ironisnya lagi sekolah tak memiliki lahan parkir yang memadai untuk para orang tuanya yang mengantar dan menjemput anaknya ke sekolah.
Sekolah lebih mementingkan sistem pendidikan yang baik agar siswa menjadi pintar, tapi sekolah tak sanggup memberikan ruang parkir yang luas untuk para wali murid nya agar dapat mengantarkan anak mereka ke sekolah dan menjemputnya pulang dari sekolah.
Mirisnya itu terjadi di sekolah-sekolah yang memiliki nota bene dedikasi ternama seperti terlihat setiap hari di wilayah Kelapa Gading Jakarta Utara tepatnya di sekolah Al Azhar, sekolah yang memilki dedikasi terbaik dan ternama, di kenal luas di seluruh dunia, ternyata tak memiliki lahan parkir yang bisa menjadikan para orang tua siswa dapat mengantarkan dan menjemput anaknya ke sekolah dengan nyaman dan leluasa, tanpa harus menjemput dan menghantarkan anak-anak mereka tapi di satu sisi mengganggu para pengendara jalan raya yang mengakibatkan kemacetan di dekat sekolah tersebut.
Jalan raya seperti sudah dapat diketahui oleh kita bersama adalah milik umum bukan milik segelintir orang, apalagi kemacetan itu sudah cukup lama berjalan, tanpa ada tindakan tegas dari instansi terkait untuk menindak lanjuti permasalah tersebut.
Belum lagi tempat usaha rumah toko atau yang disebut ruko di sepanjang Jalan Boulevard Timur kumuh semeraut, terlihat tumpukan sampah dan pedagang kaki lima yang tak tertata dengan tertib, ditambah perparkiran yang terlihat liar tidak teratur menggunakan sistem yang semaunya saja dalam mengatur sistem parkir di wilayah tersebut.
Sebuah fenomena ketimpangan yang memberikan dampak negatif kepada lingkungan wilayah setempat terkhusus di Wilayah RW 12 Kelurahan Pegangsaan 2 Kelapa Gading.
Sebuah ungkapan yang memilukan ketika RN seorang pedagang kaki lima memberikan sebuah ungkapan bahwa, ia diberi ijin kepada seorang oknum yang membawa nama Ketua Rukun Warga setempat yaitu RW 12.
Pertanyaan besar ketika seluruh para tokoh dan pemangku wilayah terkhusus instansi terkait yang berada di wilayah tersebut memberikan kebebasan tanpa ada aturan main yang baik, sehingga membuat kesemrautan yang begitu membesar terjadi di wilayah itu.
Semua terkesan tutup mata, atau ada sebuah tanda kutip yang terlihat seperti sudah di biarkan, dan akhirnya menjadi pembiaran yang terus menerus berjalan.
Lalu siapa yang dirugikan?
Dampak pembiaran ini sangat terasa oleh sebagian warga yang bermukim di wilayah tersebut.
Pemerhati lingkungan dan tokoh masyarakat juga angkat bicara terkait permasalahan yang terjadi di wilayah tersebut.
Jelas sudah pemerintah juga telah memberi peringatan tegas kepada para pelaku pelanggaran lalulintas di jalan raya dan para pelaku parkir liar yang memanfaatkan bahu jalan untuk di jadi kan lahan parkir.
Bahkan tak cuma itu saja Peraturan Daerah DKI Jakarta No 5 Tahun 2014 tentang transportasi mengatur larangan parkir di bahu jalan yang menganggu kelancaran ber lalulintas.
Hal itu bisa di lakukan asal memilki izin dan tidak menganggu para pelaku lain nya.
Dalam hal ini pemerintah kota DKI Jakarta sebetulnya sudah membuat aturan main yang secara tertulis dan jelas, namun kenapa lagi lagi pelanggaran tersebut masih dilakukan.
Yang sangat menjadikan sebuah keprihatinan secara dalam pelanggaran itu terjadi diwilayah yang mayoritas para penduduknya bernotaben penduduk kelas atas.
Dari segi kemapanan hidup mereka yang mayoritas penduduk nya memiliki Taraf hidup mewah seharus nya mereka lebih tinggi tingkat kesadaran dan tingkat pola hidup tertib nya di banding masyarakat yang nota benenya masyarakat menengah ke bawah.
Ada apa dengan semua ini? Padahal kalau mau dilihat dari sejarah masa lalu kesemrautan seperti ini bukanlah warisan para leluhur kita.
Kaum bangsawan masa lalu lebih menjunjung tinggi gaya hidup yang beradab dengan attitude dan sikap intelektualitas yang baik. Terimakasih.
Penulis : Bang Beks










