
Oleh : Johan Sopaheluwakan, S.Pd., C.EJ., C.BJ., CLA-D
Tamperak News – – Jakarta Barat, DKI Jakarta – Rabu (18/2/2026) – Pada awal tahun 2026 di Indonesia, sebuah rangkaian perayaan agama bertepatan secara luar biasa: Imlek, Rabu Abu, awal puasa Ramadan, dan Hari Raya Nyepi.

Keempat perayaan ini datang dengan cara beribadah dan tradisi yang berbeda, namun pada intinya membawa pesan yang saling melengkapi: membersihkan diri, rendah hati, menahan diri, dan mendekatkan diri pada Yang Maha Kuasa. Dari perspektif teologi Kristen, fenomena ini bukan sekadar kebetulan, melainkan sebuah panggilan untuk memahami makna persaudaraan umum dan implementasi ajaran “kasih sesama” dalam konteks multireligius Indonesia.

Ajaran Kristen tentang Persaudaraan dan Kesatuan
Ajaran “kasih sesama” (agape) menjadi landasan utama dalam pandangan Kristen tentang hubungan antarmanusia, termasuk dengan sesama umat beragama. Dalam Injil Yohanes 13:34-35, Yesus memberikan perintah baru: “Kasihilah sesamamu seperti aku telah mengasihimu. Inilah tanda bagi semua orang bahwa kamu adalah murid-Ku, jika kamu mengasihi sesamamu.”
Dari sisi teologi, konsep kesatuan umat manusia sebagai ciptaan Allah telah lama diperdebatkan oleh para teolog. Emil Brunner dalam karyanya menyatakan bahwa semua manusia memiliki Imago Dei (kecitraan Allah), yang menjadi dasar kesetaraan dan martabat setiap individu tanpa memandang agama atau latar belakang. Hal ini berarti bahwa meskipun berbeda dalam cara beribadah, seluruh umat manusia memiliki hubungan fundamental sebagai saudara-saudara dalam ciptaan Tuhan.

Selain itu, ajaran tentang kerajaan Allah yang datang bukan hanya untuk satu kelompok tertentu, melainkan untuk seluruh ciptaan, mengajak umat Kristen untuk melihat perbedaan sebagai bagian dari keindahan rancangan Tuhan.
Seperti yang dinyatakan oleh Hendrik Kraemer, teologi Kristen yang sehat harus mampu menghargai keberagaman sebagai wujud ekspresi manusia dalam merespon kehadiran Tuhan.
Perayaan Beragama sebagai Sarana Pembelajaran Bersama
Keempat perayaan yang bertepatan tersebut masing-masing membawa pesan yang selaras dengan nilai-nilai Kristen:
– Imlek dengan ajaran membersihkan rumah dan hati sejalan dengan konsep metanoia (pertobatan) dalam Kristen, yaitu perubahan hati yang mendalam dan pembersihan dari dosa.
– Rabu Abu yang mengingatkan akan rendah hati sesuai dengan ajaran Yesus tentang kerendahan hati sebagai ciri murid-Nya (Matius 5:3).
– Puasa Ramadan yang melatih ketahanan diri dan kepedulian pada yang lemah sejalan dengan ajaran berpuasa dalam Kristen yang tidak hanya tentang menahan makan, tetapi juga tentang kesalehan dan kepedulian sosial (Matius 6:16-18).
– Nyepi yang mengajak untuk diam dan mendengar suara Tuhan sesuai dengan ajaran tentang doa pribadi dan renungan yang mendalam untuk mendekatkan diri pada Allah (1 Raja-raja 19:12).
Dari perspektif teologi, hal ini menunjukkan bahwa Tuhan bekerja melalui berbagai cara dalam hati manusia, dan setiap tradisi beragama memiliki potensi untuk mengajarkan nilai-nilai universal yang menguatkan kehidupan bersama.
Bhinneka Tunggal Ika dalam Pandangan Teologi Kristen
Prinsip nasional Indonesia Bhinneka Tunggal Ika (Berbeda-beda tetapi tetap satu) tidak bertentangan dengan ajaran Kristen, melainkan dapat dilihat sebagai wujud konkrit dari persaudaraan umat manusia yang diajarkan dalam Alkitab. Para teolog kontekstual Indonesia seperti Y.B. Mangunwijaya telah lama mengemukakan bahwa gereja di Indonesia harus hidup dalam harmoni dengan keberagaman budaya dan agama, serta melihat perbedaan sebagai anugerah yang memperkaya kehidupan berbangsa dan bernegara.
Ajaran Kristen tentang “saling menghormati” sejalan dengan nilai-nilai yang terkandung dalam Bhinneka Tunggal Ika. Dalam surat Roma 12:10, Paulus menulis: “Kasihilah sesamamu dengan kasih yang tulus; hormatilah satu sama lain lebih dari pada diri sendiri.” Hal ini menjadi dasar bagi umat Kristen untuk menjalin hubungan yang saling menghormati dengan sesama umat beragama.
Kesimpulan: Perbedaan Sebagai Alasan untuk Saling Menguatkan
Fenomena perayaan beragama yang bertepatan ini adalah sebuah pengingat bahwa meskipun kita berbeda dalam cara beribadah dan menjalankan keyakinan, kita adalah satu keluarga dalam ciptaan Tuhan. Ajaran Kristen mengajak kita untuk tidak melihat perbedaan sebagai alasan untuk bertengkar, melainkan sebagai kesempatan untuk saling belajar dan menguatkan.
Ketika doa-doa naik dari vihara, gereja, masjid, dan pura menuju Tuhan yang sama, itu adalah bukti bahwa kebaikan dan kerinduan akan kedekatan dengan Yang Maha Kuasa adalah nilai universal yang mengikat seluruh umat manusia. Semoga kita semua semakin dewasa dalam iman, lembut dalam sikap, dan kuat dalam persaudaraan.
DAFTAR KEPUSTAKAAN :
1. Alkitab Terjemahan Baru Indonesia (TB). Jakarta: Lembaga Alkitab Indonesia, 2019.
2. Brunner, Emil. Man in Revolt: A Christian Anthropology. Translated by Olive Wyon. Philadelphia: Westminster Press, 1947.
3. Kraemer, Hendrik. The Christian Message in a Non-Christian World. New York: Harper & Brothers, 1938.
4. Mangunwijaya, Y.B. Gereja di Tengah Budaya Indonesia. Yogyakarta: Kanisius, 1995.
5. Moltmann, Jürgen. God in Creation: A New Theology of Creation and the Spirit of God. Translated by Margaret Kohl. San Francisco: Harper & Row, 1985.
6. Rahner, Karl. Christianity and the Non-Christian Religions. Edited by John Coventry. New York: Herder and Herder, 1966.
7. Setiawan, Budi. “Persaudaraan Umum dalam Teologi Kristen Indonesia.” Jurnal Teologi Indonesia, Vol. 42, No. 2, 2024, hal. 89-105.
8. Wiryomartono, Ignatius. Bhinneka Tunggal Ika dan Ajaran Kristen. Jakarta: BPK Gunung Mulia, 2022.

Penulis adalah Mahasiswa Magister PAK Sekolah Tinggi Teologi Injili Philadelphia, Banten.
















