Tamperaknews – Labuhanbatu – Aroma peredaran narkotika jenis sabu di Desa Tanjung Haloban, Kecamatan Bilah Hilir, Kabupaten Labuhanbatu, Sumatera Utara, kian menyengat dan sulit ditutupi. Jika sebelumnya hanya beredar sebagai bisik-bisik warga, kini dugaan tersebut berubah menjadi kegelisahan nyata yang tampak di depan mata.
Warga menilai, aktivitas mencurigakan yang terjadi belakangan ini bukan lagi sekadar kebetulan. Pergerakan orang luar desa yang hilir-mudik tanpa kejelasan tujuan, ditambah kemunculan kendaraan roda empat dengan kategori mewah di titik-titik tertentu, memicu kecurigaan kuat adanya praktik ilegal yang berjalan cukup rapi—atau justru mulai ceroboh.
“Dulu cuma kabar, sekarang sudah terang-terangan. Orang luar datang silih berganti, kami tidak kenal, dan aktivitasnya mencurigakan,” ungkap seorang warga yang meminta identitasnya dirahasiakan, Kamis (19/3/2026).
Situasi ini tidak hanya memantik tanda tanya, tetapi juga menimbulkan kekhawatiran serius. Warga mulai merasakan dampak sosial yang perlahan menggerogoti lingkungan. Indikasi penyalahgunaan narkoba disebut-sebut mulai merambah kalangan pemuda hingga orang dewasa, meski belum ada pernyataan resmi dari aparat penegak hukum.
Di tengah keresahan tersebut, nama-nama tertentu mulai beredar di tengah masyarakat. Seorang oknum berinisial PS alias Dongn disebut-sebut sebagai sosok yang diduga memiliki keterkaitan dengan aktivitas tersebut. Tak sendiri, ia diduga dibantu oleh beberapa pihak lain.
“Yang sering disebut itu Roi alias pk oca dan alx. Katanya mereka ini yang jadi perantara atau kurir di lapangan,” ujar warga.
Dalam istilah yang berkembang di masyarakat, peran tersebut bahkan disebut sebagai “becak” atau “tukang pundak”—istilah lokal untuk menggambarkan perantara dalam rantai peredaran narkoba. Meski demikian, semua informasi ini masih sebatas keterangan warga dan belum terverifikasi secara resmi.
Lebih mengkhawatirkan lagi, beredar dugaan bahwa aktivitas ini memiliki kaitan dengan jaringan dari luar daerah. Bahkan, sebagian warga menyebut nama wilayah lain sebagai sumber pasokan.
“Informasinya dari luar, katanya dari Riau. Kami tidak tahu pasti, tapi pola geraknya sekarang seperti tidak lagi sembunyi-sembunyi,” lanjut warga.
Kondisi ini menimbulkan pertanyaan serius: apakah aparat belum mengetahui, atau justru belum bergerak maksimal? Warga berharap, aparat penegak hukum tidak menunggu situasi semakin memburuk sebelum bertindak.
“Kami tidak ingin desa kami rusak. Jangan sampai ini benar terjadi dan dibiarkan. Dampaknya ke anak-anak kami,” tegas warga.
Hingga berita ini diterbitkan, pihak kepolisian setempat masih dalam tahap konfirmasi. Media ini terus berupaya menghubungi pihak terkait guna memperoleh keterangan resmi, sekaligus memastikan pemberitaan yang berimbang sesuai dengan Kode Etik Jurnalistik.(Red)
















