Tamperak News – Jakarta – Sabtu (31/1/2026).- Matius 20:32 : Lalu Yesus berhenti dan memanggil mereka. Ia berkata: “Apa yang kamu kehendaki supaya Aku perbuat bagimu?”
Menutup bulan Januari 2026 ini, kita merenungkan kisah dua orang buta yang duduk di pinggir jalan dekat Yerikho. Saat mereka mendengar Yesus lewat, mereka tidak tinggal diam. Meskipun orang banyak menegur dan menyuruh mereka diam, mereka justru semakin keras berseru.
Puncaknya, Yesus berhenti dan mengajukan pertanyaan yang sangat personal: “Apa yang kamu kehendaki supaya Aku perbuat bagimu?”
Padahal, secara fisik sangat jelas bahwa mereka buta. Namun, Yesus ingin mereka menyuarakan kebutuhan terdalam mereka.
Dalam perspektif kesehatan mental, kisah ini memberikan pelajaran berharga tentang pentingnya menyadari dan menyuarakan kondisi batin kita. Banyak dari kita sering kali bertindak seperti orang banyak dalam cerita ini—kita menyuruh “diam” terhadap emosi kita sendiri.
Kita menekan rasa sedih, menyembunyikan trauma, atau mengabaikan kelelahan jiwa karena merasa tidak enak pada orang lain atau merasa tidak pantas.
Namun, kesehatan mental yang baik dimulai dengan keberanian untuk jujur dan “berseru” kepada Tuhan tentang apa yang sebenarnya sedang kita rasakan.
Pertanyaan Yesus dalam ayat 32 menunjukkan bahwa Ia sangat menghargai perasaan kita.
Tuhan tidak memperlakukan kita sebagai objek, tetapi sebagai pribadi.
Menjaga kesehatan mental di dalam Tuhan berarti menyadari bahwa Tuhan peduli pada detail-detail penderitaan kita, baik yang terlihat maupun yang tersembunyi di lubuk hati. Yesus ingin kita mendefinisikan luka kita di hadapan-Nya, bukan karena Ia tidak tahu, tetapi agar kita mengalami kelegaan saat melepaskan beban tersebut kepada-Nya.
Jemaat yang dikasihi Tuhan, ajakan bagi kita hari ini adalah untuk tidak membiarkan diri kita “buta” dan terisolasi dalam kegelapan emosional.
Jika Anda merasa lelah, cemas, atau hampa, jangan biarkan suara dunia (atau suara dalam diri Anda sendiri) menyuruh Anda diam.
Datanglah kepada Yesus dan katakan dengan jujur apa yang Anda kehendaki.
Penyembuhan mental dan rohani sering kali dimulai dengan satu sentuhan belas kasihan-Nya.
Ketika Yesus menjamah mata mereka, seketika itu juga mereka melihat. Biarlah di akhir bulan ini, kita pun mengalami “penglihatan baru”—perspektif yang sehat dan jiwa yang pulih karena kita tahu kita dicintai dan didengarkan oleh-Nya.
Mari melangkah ke bulan berikutnya dengan hati yang lebih ringan dan jiwa yang terjaga di dalam kasih Kristus.“Penglihatan baru sering dimulai ketika kita jujur tentang kebutaan kita.” — Andrew Murray
















