PUPR Aceh Barat Normalisasi Muara Sungai Lung Aneuk Aye untuk Tekan Risiko Banjir

banner 120x600
banner 468x60

Tamperak News – Meulaboh – Pemerintah Kabupaten Aceh Barat melalui Dinas Pekerjaan Umum dan Penataan Ruang (PUPR) mulai mengerjakan proyek normalisasi muara sungai Lung Aneuk Aye di kawasan Jalan Singgah Mata II, Gampong Kuta Padang, Kecamatan Johan Pahlawan. Pembangunan tanggul dilakukan sebagai upaya mengurangi potensi banjir sekaligus mencegah abrasi yang kerap mengancam infrastruktur dan permukiman warga sekitar.

Kepala Dinas PUPR Aceh Barat, Dr. Kurdi, mengatakan kondisi muara sungai Lung Aneuk Aye sudah lama mengalami pendangkalan akibat sampah dan material yang menumpuk. Akibatnya, saat musim hujan dengan intensitas tinggi, aliran air tersendat dan memicu banjir di beberapa titik.

“Melalui kegiatan normalisasi ini, kami melakukan pembersihan material penghambat aliran air sekaligus membangun tanggul untuk memperkuat tebing sungai. Dengan begitu, risiko banjir dapat ditekan, dan warga bisa merasa lebih aman,” ujar Kurdi, Senin (22/9/2025).

Proyek ini mencakup pembangunan tanggul di sisi kiri dan kanan sungai sepanjang 85 meter dengan ketinggian 2,5 meter. Pekerjaan konstruksi meliputi pembesian, pemasangan bekesting, curuk, serta pipa saluran. Material yang digunakan adalah beton siklop berkekuatan FC 15 Mpa dan beton mutu khusus untuk saluran, dengan agregat berdiameter maksimal 19 milimeter.

Kurdi menjelaskan, pembangunan tanggul tidak hanya berfungsi menahan tekanan air, tetapi juga meningkatkan kapasitas sungai dalam menampung debit air hujan sebelum dialirkan langsung ke muara dan ke laut. “Ini juga penting untuk menjaga jembatan di Jalan Singgah Mata II dari ancaman abrasi, karena posisinya sangat dekat dengan tebing sungai,” tambahnya.

Proyek ini dilaksanakan oleh CV Dzuha Putra dengan nilai kontrak sebesar Rp731 juta yang bersumber dari Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah (APBD) Aceh Barat tahun 2025.

Langkah PUPR Aceh Barat mendapat apresiasi dari warga setempat. Muhammad Isa (52), warga Gampong Kuta Padang yang rumahnya berjarak hanya sekitar 20 meter dari aliran sungai, mengaku sering merasa was-was setiap kali hujan deras turun.

“Kalau hujan lebat, air sungai cepat meluap. Kadang sampai masuk ke halaman rumah. Kami sudah lama berharap pemerintah bisa menormalisasi sungai ini. Alhamdulillah sekarang mulai dikerjakan,” ujar Isa.

Senada, Siti Aisyah (39), seorang ibu rumah tangga yang tinggal di bantaran sungai, menuturkan bahwa abrasi juga menjadi ancaman serius bagi warga. “Tebing sungai makin lama makin terkikis, apalagi dekat jembatan. Kami takut suatu hari bisa roboh. Dengan adanya tanggul, semoga bisa lebih aman dan anak-anak juga tidak was-was lagi saat bermain di sekitar rumah,” katanya.

Menurut Kurdi, pembangunan tanggul di Lung Aneuk Aye ini merupakan bagian dari strategi jangka panjang pemerintah daerah dalam pengendalian banjir. Selain menjaga infrastruktur, proyek ini diharapkan mampu memberikan dampak langsung bagi kehidupan warga sekitar.

“Dengan fungsi saluran air yang lancar, risiko banjir bisa dikurangi. Ini akan berdampak pada kenyamanan warga dan keberlangsungan aktivitas ekonomi di kawasan tersebut,” ungkapnya.

Warga berharap pekerjaan normalisasi ini bisa selesai tepat waktu dan hasilnya bertahan lama. “Kami tidak ingin lagi setiap musim hujan harus cemas. Mudah-mudahan proyek ini benar-benar memberikan manfaat,” tutup Isa. (Red/JS)

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *